Kau tahu? Aku selalu menyukai pagi pertama pada
musim semi. Saat kehidupanku dimulai lagi setelah melewati jutaan detik, ribuan
menit, ratusan jam, puluhan hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan berdiam diri
diatas tanah berlapis es tebal hasil muntahan Sang Langit. Aku mengutuk cuaca
yang mulai tak menentu. Tak bisa terprediksi, seperti tahun ini, aku terpaksa
merasakan kedinginan yang lebih lama.
Beginilah daur hidupku. Bersemi, merekah pada
musim semi. Lalu mengoptimalkan pertumbuhan pada musim penghujan yang setia
bersahabat denganku, membagi berbagai nutrisi yang aku butuhkan. Selanjutnya
mulai menua. Menguning di awal musim gugur dan pada saat inilah kami mampu
menyihir seluruh kota layaknya tertutup permadani coklat keemasan saat
dipandang dari atas. Dan pada akhirnya harus menghadapi ajal pada awal musim
dingin. Tertimbun jutaan butir salju halus yang menipu. Halus yang dapat
menusuk tulang, dingin membekukan tubuh.