Rabu, 30 April 2014

Sepenggal Kisah Dari Pucuk Pohon




Kau tahu? Aku selalu menyukai pagi pertama pada musim semi. Saat kehidupanku dimulai lagi setelah melewati jutaan detik, ribuan menit, ratusan jam, puluhan hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan berdiam diri diatas tanah berlapis es tebal hasil muntahan Sang Langit. Aku mengutuk cuaca yang mulai tak menentu. Tak bisa terprediksi, seperti tahun ini, aku terpaksa merasakan kedinginan yang lebih lama.
Beginilah daur hidupku. Bersemi, merekah pada musim semi. Lalu mengoptimalkan pertumbuhan pada musim penghujan yang setia bersahabat denganku, membagi berbagai nutrisi yang aku butuhkan. Selanjutnya mulai menua. Menguning di awal musim gugur dan pada saat inilah kami mampu menyihir seluruh kota layaknya tertutup permadani coklat keemasan saat dipandang dari atas. Dan pada akhirnya harus menghadapi ajal pada awal musim dingin. Tertimbun jutaan butir salju halus yang menipu. Halus yang dapat menusuk tulang, dingin membekukan tubuh.
Entah mengapa, daur hidupku selalu seperti ini. Aku menyukai Semi saat aku dilahirkan kembali. Namun sejujurnya aku lebih menyukai Hujan yang membantuku tumbuh. Menjadi remaja. Memandang sekitar. Dan akibat dari masa “reinkarnasi” yang menimpaku ini, selalu ada cerita yang kusimpan dalam loker-loker otakku pada setiap alur kehidupan. Aku selalu menyukai mendengar mereka yang bersenandung akan cinta, membagi kebahagiaan saat menakhlukkan dunia. Begitu pula saat air mata membasahi pipi-pipi mereka yang gempal karena kehilangan sesuatu yang amat berharga, saat melihat wajah-wajah mereka memerah seperti ketel air yang sedang merajang sahabatnya sendiri- yang tak lain dan tak bukan adalah air- alis mereka terangkat ; mulut merapal kata-kata kasar; hati bersumpah serapah atas semua yang telah dihadapi.
Inilah sepenggal kisah tentang jatuh cinta, patah hati, kehilanga, kesuksesan, usaha, marah, sedih, dan kecewa. Inilah sepenggal kisah dari pucuk pohon. Inilah kisah selembar daun muda di atas sepucuk pohon.

 ***

KISAH TENTANG PERJUANGAN DAN KEBERHASILAN
Kisah ini berawal pada tahun pertamaku menjadi sesosok daun muda. Saat itu aku masih sangat bingung akan kehidupanku. Aku selalu bertanya tanya kepada daun-daun lain yang sudah lebih berpengalaman. Aku memandang jengah alam sekitar. Tidak terlalu buruk, pikirku. Namun, di sini terlalu banyak makhluk lain selain jenisku. Dan belakangan aku mengetahui-setelah bertanya tentunya- mereka adalah binatang-binatang yang memang hidup di pohon ini. Ada ulat, kupu-kupu, kepik, semut, lebah madu, dan beberapa jenis burung. Namun ada satu kisah yang menarik perhatianku. Kisah ini juga yang selalu tersimpan dalam loker otakku. Kisah perjuangan seekor ulat.
Begini ceritanya…
Pagi itu, saat aku terbangun dari tidur lelapku di malam yang indah penuh bintang-gemintang, aku merasakan ada yang bersandar di tubuhku. Agak sulit memang melihat tubuh dengan mata kepala sendiri. Namun aku masih dapat melihatnya. Ternyata ada seekor ulat daun yang tertidur bersandar pada tubuhku. Merasa diperhatikan, ulat itu pun terbangun.
                “Selamat pagi, Dik” sapaku ramah kepadanya.
Dia menjawab sekenanya. Singkat cerita akhirnya ku tahu, namanya Tomi. Dia baru saja menetas pada malam itu. Dan saking lelahnya, langsung tertidur. Memang kusadari dia masih amat lemah. Usianya pun baru beberapa jam. Berjalanpun masih sulit. Akhirnya selama berhari-hari aku terus mendampinginya belajar mengenal dunia. Menjawab segala pertanyaan yang dia ajukan. Mulai panik saat dia memakan berlembar-lembar daun yang berada di sekitarku. Bukan, bukan karena aku tidak tahu. Aku tahu, itu merupakan asupan energinya. Yang aku takutkan adalah : ulat makan daun. Daun = aku. Itu berarti aku = makanan ulat. OH NO!
“Tenang, Om. Aku nggak akan mungkin makan Om kok. Kalau aku makan Om, nanti siapa yang ngajarin aku lagi?” ucapnya seraya tertawa saat melihat wajah panikku.
Jujur, aku beni saat dia menyebutku sebagai Omnya. Padahal aku jelas-jelas adalah daun muda yang sedang beranjak menjadi dewasa.
Sedikit banyak, aku mengetahui fase hidup ulat yang harus mengalami metamorphosis untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Tanpa terkecuali Tomi yang notabene memang seekor ulat. Selama ini, aku sangat menghargai usahanya untuk itu. Setiap hari ia harus mencari daun segar untuk mencukupi nutrisi pertumbuhannya. Setiap saat pula hidupnya dihantui oleh rasa was-was. Hidupnya selalu dirundung kegelisahan. Dihantui pemangsa-pemburu yang menggantungkan hidup mereka di pohon ini. Hidup Tomi selalu diambang kebinasaan, kematian.
Berkali-kali pula hatiku mencelos, jantungku melompat ke tenggorokan saat berkali-kali pula aku melihat tubuh hijau muda Tomi terpaksa jatuh untuk menghindari paruh yang siap mencabik. Selanjutnya butuh waktu berhari-hari untuk mencapai ketinggian ini lagi. Semangat anak muda yang menggebu-gebu. Gigih berusaha. Bersifat ulet seperti jenisnya.
Suatu hari aku kebingungan mendapati Tomi berjalan lebih jauh untuk mendapat daun lebih banyak. Memakan porsi yang tak lazim. Tubuhnya semakin gempal, pipinya semakin tembam. Itulah yang menyebabkan namanya berganti menjadi Si Gembul.
Pada suatu pagi, tak biasanya Si Gembul tidak melakukan apa-apa. Ia hanya memandang langit berfajar tanda sang raja mulai muncul. Matanya berbinar. Bibirnya melengkungkan senyum terindah. Bak pungguk merindukan bulan yang menjelma menjadi Tomi merindukan mentari.
                “Hei, kau sedang melihat apa? Malaikat mautkah?” sapaku, mengejek.
                “Tidak” jawabnya singkat. “Lalu? Apa yang kau lihat?” tanyaku mulai penasaran.
                “Aku melihat benang-benang raja yang bertebaran, berkilauan”
Jujur. Aku mulai penasaran. Hey, apa yang dia katakana tadi? Benag raja? Mana mungkin pagi ini muncul benang raja. Aku mulai ikut memandang ke arah tatapan matanya. Tak ada apa-apa. Yang ada hanya langit biru cerah dan sedikit awan.
                “Kau gila? Tidak ada apa-apa di sana”
                “Ada. Kau saja yang tidak bisa melihatnya” jawabnya sedikit ketus. Aku terdiam. Berfikir. Dahiku mengkerut tak menemukan jawaban atas tanda tanya yang volumenya mulai membesar di otakku. Setengan merajuk kutatap dia.
“Maafkan aku jika selama ini aku memiliki banyak salah padamu. Aku mohon maafkan aku sebelum kita berar-benar berpisah” ucapnya dengan nada memelas dan tatapan nanar.
                “Apa maksudmu? Berpisah? Itu tidak masuk akal, Nak” jawabku tak percaya akan kata-kata berpisah yang dia ucapkan.
                “Kau tahu? Fase hidup kepompong? Sebentar lagi aku akan menjalani fase itu setelah sekian bulan berjuang, berjalan, mengunyah, berlari menghindar, dan terjatuh dari pohon, akhirnya berhasil menuju tempat ini lagi. Saat-saat yang kutunggu akhirnya datang. Aku sudah siap untuk menjalani fase ini. Tunggu aku berubah” jawabnya menjelaskan.
Benar saja, tak lama beberapa kemudian, mulai muncul benag-benag halus yang perlahan namun pasti menutupi tubuh gempal Tomi. Dia sempat melemparkan senyumannya kepadaku sesaat sebelum benang-benang itu menutupi tubuhnya dengan sempurna. Butuh waktu berhari-hari memang untuk menunggu berang-benang itu menutupi tubuhnya dengan sempurna. Butuh waktu sekitar 2 minggu yang panjang tentunya bagi Tomi berada di dalam bungkusan benang tersebut.
Saat melihatnya keluar kepompong mengepakkan sayap barunya. Memamerkan kecantikannya serta penampilannya. Memperlihatkan kebolehan barunya. Saat itu pula aku mengerti apa arti sebuah perjuangan. Perjuangan yang keras dapat membuahkan suatu hasil yang maksimal. Berangkat dari cerita seekor ulat kecil yang bernama Tomi yang berhasil merubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu yang amat cantik setelah lama berjuang, berjalan, mengunyah, berlari menghindar, dan terjatuh dari pohon, akhirnya berhasil menuju tempat ini lagi.

IEN-
               



1 komentar: