Kau tahu? Aku selalu menyukai pagi pertama pada
musim semi. Saat kehidupanku dimulai lagi setelah melewati jutaan detik, ribuan
menit, ratusan jam, puluhan hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan berdiam diri
diatas tanah berlapis es tebal hasil muntahan Sang Langit. Aku mengutuk cuaca
yang mulai tak menentu. Tak bisa terprediksi, seperti tahun ini, aku terpaksa
merasakan kedinginan yang lebih lama.
Beginilah daur hidupku. Bersemi, merekah pada
musim semi. Lalu mengoptimalkan pertumbuhan pada musim penghujan yang setia
bersahabat denganku, membagi berbagai nutrisi yang aku butuhkan. Selanjutnya
mulai menua. Menguning di awal musim gugur dan pada saat inilah kami mampu
menyihir seluruh kota layaknya tertutup permadani coklat keemasan saat
dipandang dari atas. Dan pada akhirnya harus menghadapi ajal pada awal musim
dingin. Tertimbun jutaan butir salju halus yang menipu. Halus yang dapat
menusuk tulang, dingin membekukan tubuh.
Entah mengapa, daur hidupku selalu seperti ini.
Aku menyukai Semi saat aku dilahirkan kembali. Namun sejujurnya aku lebih
menyukai Hujan yang membantuku tumbuh. Menjadi remaja. Memandang sekitar. Dan
akibat dari masa “reinkarnasi” yang menimpaku ini, selalu ada cerita yang
kusimpan dalam loker-loker otakku pada setiap alur kehidupan. Aku selalu
menyukai mendengar mereka yang bersenandung akan cinta, membagi kebahagiaan
saat menakhlukkan dunia. Begitu pula saat air mata membasahi pipi-pipi mereka
yang gempal karena kehilangan sesuatu yang amat berharga, saat melihat
wajah-wajah mereka memerah seperti ketel air yang sedang merajang sahabatnya
sendiri- yang tak lain dan tak bukan adalah air- alis mereka terangkat ; mulut
merapal kata-kata kasar; hati bersumpah serapah atas semua yang telah dihadapi.
Inilah sepenggal kisah tentang jatuh cinta,
patah hati, kehilanga, kesuksesan, usaha, marah, sedih, dan kecewa. Inilah
sepenggal kisah dari pucuk pohon. Inilah kisah selembar daun muda di atas
sepucuk pohon.
***
KISAH TENTANG PERJUANGAN DAN KEBERHASILAN
Kisah ini berawal pada tahun pertamaku menjadi
sesosok daun muda. Saat itu aku masih sangat bingung akan kehidupanku. Aku
selalu bertanya tanya kepada daun-daun lain yang sudah lebih berpengalaman. Aku
memandang jengah alam sekitar. Tidak
terlalu buruk, pikirku. Namun, di sini terlalu banyak makhluk lain selain
jenisku. Dan belakangan aku mengetahui-setelah bertanya tentunya- mereka adalah
binatang-binatang yang memang hidup di pohon ini. Ada ulat, kupu-kupu, kepik,
semut, lebah madu, dan beberapa jenis burung. Namun ada satu kisah yang menarik
perhatianku. Kisah ini juga yang selalu tersimpan dalam loker otakku. Kisah
perjuangan seekor ulat.
Begini ceritanya…
Pagi itu, saat aku terbangun dari tidur lelapku
di malam yang indah penuh bintang-gemintang, aku merasakan ada yang bersandar
di tubuhku. Agak sulit memang melihat tubuh dengan mata kepala sendiri. Namun
aku masih dapat melihatnya. Ternyata ada seekor ulat daun yang tertidur
bersandar pada tubuhku. Merasa diperhatikan, ulat itu pun terbangun.
“Selamat
pagi, Dik” sapaku ramah kepadanya.
Dia menjawab sekenanya. Singkat cerita akhirnya
ku tahu, namanya Tomi. Dia baru saja menetas pada malam itu. Dan saking
lelahnya, langsung tertidur. Memang kusadari dia masih amat lemah. Usianya pun
baru beberapa jam. Berjalanpun masih sulit. Akhirnya selama berhari-hari aku
terus mendampinginya belajar mengenal dunia. Menjawab segala pertanyaan yang
dia ajukan. Mulai panik saat dia memakan berlembar-lembar daun yang berada di
sekitarku. Bukan, bukan karena aku tidak tahu. Aku tahu, itu merupakan asupan
energinya. Yang aku takutkan adalah : ulat makan daun. Daun = aku. Itu berarti
aku = makanan ulat. OH NO!
“Tenang, Om. Aku nggak akan mungkin
makan Om kok. Kalau aku makan Om, nanti siapa yang ngajarin aku lagi?” ucapnya
seraya tertawa saat melihat wajah panikku.
Jujur, aku beni saat dia menyebutku sebagai
Omnya. Padahal aku jelas-jelas adalah daun muda yang sedang beranjak menjadi
dewasa.
Sedikit banyak, aku mengetahui fase hidup ulat
yang harus mengalami metamorphosis untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Tanpa terkecuali Tomi yang notabene memang seekor ulat. Selama ini, aku sangat
menghargai usahanya untuk itu. Setiap hari ia harus mencari daun segar untuk
mencukupi nutrisi pertumbuhannya. Setiap saat pula hidupnya dihantui oleh rasa
was-was. Hidupnya selalu dirundung kegelisahan. Dihantui pemangsa-pemburu yang
menggantungkan hidup mereka di pohon ini. Hidup Tomi selalu diambang
kebinasaan, kematian.
Berkali-kali pula hatiku mencelos, jantungku
melompat ke tenggorokan saat berkali-kali pula aku melihat tubuh hijau muda
Tomi terpaksa jatuh untuk menghindari paruh yang siap mencabik. Selanjutnya
butuh waktu berhari-hari untuk mencapai ketinggian ini lagi. Semangat anak muda
yang menggebu-gebu. Gigih berusaha. Bersifat ulet seperti jenisnya.
Suatu hari aku kebingungan mendapati Tomi
berjalan lebih jauh untuk mendapat daun lebih banyak. Memakan porsi yang tak
lazim. Tubuhnya semakin gempal, pipinya semakin tembam. Itulah yang menyebabkan
namanya berganti menjadi Si Gembul.
Pada suatu pagi, tak biasanya Si Gembul tidak
melakukan apa-apa. Ia hanya memandang langit berfajar tanda sang raja mulai
muncul. Matanya berbinar. Bibirnya melengkungkan senyum terindah. Bak pungguk
merindukan bulan yang menjelma menjadi Tomi merindukan mentari.
“Hei,
kau sedang melihat apa? Malaikat mautkah?” sapaku, mengejek.
“Tidak”
jawabnya singkat. “Lalu? Apa yang kau lihat?” tanyaku mulai penasaran.
“Aku
melihat benang-benang raja yang bertebaran, berkilauan”
Jujur. Aku mulai penasaran. Hey, apa yang dia
katakana tadi? Benag raja? Mana mungkin pagi ini muncul benang raja. Aku mulai
ikut memandang ke arah tatapan matanya. Tak ada apa-apa. Yang ada hanya langit
biru cerah dan sedikit awan.
“Kau
gila? Tidak ada apa-apa di sana”
“Ada.
Kau saja yang tidak bisa melihatnya” jawabnya sedikit ketus. Aku terdiam.
Berfikir. Dahiku mengkerut tak menemukan jawaban atas tanda tanya yang
volumenya mulai membesar di otakku. Setengan merajuk kutatap dia.
“Maafkan aku jika selama ini aku
memiliki banyak salah padamu. Aku mohon maafkan aku sebelum kita berar-benar
berpisah” ucapnya dengan nada memelas dan tatapan nanar.
“Apa
maksudmu? Berpisah? Itu tidak masuk akal, Nak” jawabku tak percaya akan
kata-kata berpisah yang dia ucapkan.
“Kau
tahu? Fase hidup kepompong? Sebentar lagi aku akan menjalani fase itu setelah
sekian bulan berjuang, berjalan, mengunyah, berlari menghindar, dan terjatuh
dari pohon, akhirnya berhasil menuju tempat ini lagi. Saat-saat yang kutunggu
akhirnya datang. Aku sudah siap untuk menjalani fase ini. Tunggu aku berubah”
jawabnya menjelaskan.
Benar saja, tak lama beberapa kemudian, mulai
muncul benag-benag halus yang perlahan namun pasti menutupi tubuh gempal Tomi.
Dia sempat melemparkan senyumannya kepadaku sesaat sebelum benang-benang itu
menutupi tubuhnya dengan sempurna. Butuh waktu berhari-hari memang untuk
menunggu berang-benang itu menutupi tubuhnya dengan sempurna. Butuh waktu
sekitar 2 minggu yang panjang tentunya bagi Tomi berada di dalam bungkusan
benang tersebut.
Saat melihatnya keluar kepompong mengepakkan
sayap barunya. Memamerkan kecantikannya serta penampilannya. Memperlihatkan
kebolehan barunya. Saat itu pula aku mengerti apa arti sebuah perjuangan.
Perjuangan yang keras dapat membuahkan suatu hasil yang maksimal. Berangkat
dari cerita seekor ulat kecil yang bernama Tomi yang berhasil merubah dirinya
menjadi seekor kupu-kupu yang amat cantik setelah lama berjuang, berjalan,
mengunyah, berlari menghindar, dan terjatuh dari pohon, akhirnya berhasil
menuju tempat ini lagi.
IEN-
keren keren
BalasHapus