Kamis, 01 Mei 2014

Hanya Puisi



Tumpahan tinta menodai putih
Bertautan dalam syahdu peluk
Sajak membuai menuai kasih
Tuan, tenanglah. Ini hanya puisi

                        Tanpa dusta…
Dia mentransformasi peluh menjadi tawa
Gelugur guntur dan benang-benang raja
Merekahkan kelopak mati


Virus itu merengkuhku, membelenggu
Membungkam sang pedang dunia
Menghujam tak tertahan
Merajang tak karuan

Inginku abadi bersamanya
Mauku bersatu langkah, berpadu laras
Anganku bukan ilusi
Pujangga pembual kata

Tidakkah kau menyadari suatu ketetapan hati?
Tidakkah kau rasa getaran di dada?
Tidakkah kau mendengar detak jantung yang memburu, terpacu?
Tidakkah kau mengerti dan sadar akan makna bahasa tubuh yang tersirat?

Kasih…
Lihatlah rembulan tersenyum
Nikmati bintang gemintang menari dalam letupan kilaunya
Dengarlah lolongan anjing memecah hening

Kasih...
Akulah sang pengembara itu
Berkelana yang terkadang kalah, salah
Lantas kini, masih adakah spasi itu untukku?
Sungguh. Ini hanya puisi



IEN-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar