Tumpahan
tinta menodai putih
Bertautan
dalam syahdu peluk
Sajak
membuai menuai kasih
Tuan,
tenanglah. Ini hanya puisi
Tanpa dusta…
Dia mentransformasi peluh menjadi tawa
Gelugur guntur dan benang-benang raja
Merekahkan kelopak mati
Virus itu merengkuhku, membelenggu
Membungkam sang pedang dunia
Menghujam tak tertahan
Merajang tak karuan
Inginku abadi bersamanya
Mauku bersatu langkah, berpadu laras
Anganku bukan ilusi
Pujangga pembual kata
Tidakkah kau menyadari suatu
ketetapan hati?
Tidakkah kau rasa getaran di dada?
Tidakkah kau mendengar detak jantung
yang memburu, terpacu?
Tidakkah kau mengerti dan sadar akan
makna bahasa tubuh yang tersirat?
Kasih…
Lihatlah rembulan tersenyum
Nikmati bintang gemintang menari dalam letupan
kilaunya
Dengarlah lolongan anjing memecah hening
Kasih...
Akulah sang pengembara itu
Berkelana yang terkadang kalah,
salah
Lantas kini, masih adakah spasi itu
untukku?
Sungguh.
Ini hanya puisi
IEN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar