Jumat, 02 Mei 2014

No Reason by Faika Rauda. A




Prolog
       Ia terduduk lemas dibangku kamarnya. Tubuhnya begitu rapuh. Ia hanya ingin berada di ruang kamar seorang diri. Tanpa gangguan dari siapapun. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus melakukan apa. Ponselnya yang terus berdering tak ia hiraukan. Sekali lagi, ia benar benar tidak ingin melakukan apapun. Ia merasa sangat lelah, ia tidak kuat menerima apa yang sebenarnya terjadi. Karena rasanya sangat sakit. Sakit sekali...
 Ia hanya butuh waktu untuk memperbaiki keadaannya, menyembuhkan luka dihatinya, menghilangkan perih yang ia rasakan, dan membiarkan tangis membasahi pipinya. Ia membiarkan tetes air matanya yang terasa hangat itu berlinang. Ia tahu hal ini dapat membuat keadaannya membaik. Ia hanya tak tahu, entah kapan perih di hatinya dapat terobati. Entah sampai kapan sedih ini akan menemaninya disetiap hari-harinya.
Matanya tergerak menatap keluar jendela. Ia dapat melihat banyak bintang yang cahayanya menerangi gelap malam. Bintang-bintangterlihat cantik menghiasi langit. Bintang-bintang membuat tubuhnya tergerak untuk mendekati jendela. Ia berusaha dengan kuat menyeret kakinya untuk berjalan menghampiri jendela kamarnya, Ia ingin melihat bintang lebih dekat. Bintang-bintang membuat langit malam selalu terlihat tenang seperti biasanya. Namun untuk kali ini, langit dan bintang-bintang itu membuat sesak didadanya semakin parah. Membuat air matanya pecah dan semakin deras membasahi wajahnya.
Ia sudah benar–benar tidak kuat menahan rasa sesak didadanya. Semua kenangan masa lalunya tak pernah bisa terhapuskan dari ingatannya. Kenangan ia bersama seseorang lelaki yang amat ia kenal dengan baik selalu membuat tetes demi tetes airmatanya begitu deras mengiringi isak tangisnya, ia sangat merindukan lelaki itu. Dengan airmata yang terus mengalir, dengan suara rapuh terucap kata dari dirinya. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Kumohon, kembalilah.....aku merindukanmu, sangat merindukanmu.
                                                       ***
Ruang kelas sore ini sudah sangat sepi, namun lampunya masih menyala. Masih ada seseorang didalam sana. Defira. Atau lebih dikenal dengan panggilan Fira. Gadis itu masih berada di dalam ruang kelas seorang diri.  Dia masih memainkan laptop. Wajah mungilnya terlihat begitu serius. Jemarinya dengan lincah menekan-nekan keyboard. Ia sedang mengerjakan tugas sekolah. Ia menghabiskan waktu cukup lama hingga akhirnya ia dapat menyelesaikan tugasnya.
“Fir! Masih belum selesai ya?”, tiba-tiba seorang lelaki mendatangi Defira dengan wajah lesunya. Reza. Lelaki itu adalah orang yang selalu setia menemani Fira. Dia adalah sahabat Fira sejak 3 tahun lalu atau tepatnya kelas 1 smp dulu hingga kelas 1 sma sekarang. Reza adalah lelaki yang selalu terlihat menyenangkan untuk Fira. Bukan karena ketampanannya, namun karena Reza selalu ada untuk Fira. Fira memang sangat beruntung, ia selalu dilindungi oleh Reza dimanapun ia berada.
“Iya zaa, ini udah selesai kok. Maaf yaa lama, lagian tadi kan aku saranin kamu pulang duluan karena aku bakal lama disini” kata fira sambil sibuk merapikan peralatannya kedalam tas untuk dibawa pulang.
“Ya nggak bisa gitu Fira! Kamu kan perempuan, aku ga mungkin ninggalin kamu sendirian Fir. Nanti kalau dijalan ada apa-apa gimana coba?”, balas Reza dengan penuh perhatian. Meskipun Reza dekat dan disukai banyak wanita, namun perhatiannya hanya untuk Fira.
Entah mengapa Reza selalu memusatkan perhatiannya pada Fira, sekalipun ia memiliki banyak teman wanita yang lebih cantik dari Fira. Reza selalu merasa lebih tenang dan nyaman bila berada didekat Fira. Ia sangat menyukai senyum manis Fira yang selalu membuatnya tersenyum balik. Reza juga senang melihat mata Fira saat sedang tertawa.
“Za, Apaan sih... Kamu tuh yaa ga perlu berlebihan gitu, Za” fira mengeluarkan senyum manisnya.
“Yaudah yaudah pokoknya sekarang kita pulang ya, aku tunggu dimobil”, ucap Reza sambil menatap Fira lekat lekat dan menunjukan wajah tampannya. “Iya”, hanya itu yang terucap dari mulut Fira.
                                                       ***
“Sarah, maafin aku. Gimana kalau sekarang kita mampir nyari tempat makan dulu sebelum kuantar kamu kerumah?” Sarah hanya terdiam,“Aku akan mentraktirmu. Okey?”, ucap seorang lelaki berbadan tegak, namanya Feisal. Ia memohon-mohon sedari tadi kepada Sarah dengan wajah menyesal. Lelaki berusia 17 tahun itu memiliki postur tubuh berisi, tinggi tubuh yang tidak terlalu jangkung, kulitnya tidak putih namun tidak hitam, rambutnya dengan style khasnya membuatnya terlihat begitu keren oleh banyak wanita disekolahnya.
“Terserah kamu saja!”, jawab Sarah ketus. Moodnya sedang tidak baik. Sarah adalah sahabat Feisal sejak masih kecil, hingga sekarang tepatnya kelas 2 sma. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, tak ada hubungan lebih dari hubungan persahabatan diantara mereka, namun, mereka merasa saling memiliki. Teman-teman disekitar mereka selalu mengira ada hubungan lebih diantara mereka. Namun nyatanya memang mereka hanya bersahabat.
“Yaudah, ayo sekarang ikut aku yuk!” Feisal menuntun sarah untuk menuju mobilnya dan mencari tempat makan. Sarah hanya mengangguk, ia tak ingin bicara banyak, wajahnya begitu datar,tak seperti biasanya. Sarah adalah gadis yang sangat dewasa, sejak kecil dia sudah ditinggal ibunya, sehingga ia sudah biasa melakukan hal-hal yang seharusnya dikerjakan ibunya saat berusia muda. Sarah memiliki perawakan berbadan tinggi berisi dengan kulit kuning langsat, dagu yang agak lancip, berhidung mancung, beralis tebal, rambutnya yang agak ikal dibagian bawah dan sangat panjang selalu terurai menutup bahunya, membuatnya terlihat sangat cantik.
Ketika Feisal mengendarai mobilnya untuk keluar dari sekolah, ada satu mobil lain yang juga sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah, dan ia sangat kenal dengan mobil itu. Mobil yang dilihatnya adalah mobil Reza, adik kelasnya yang rumahnya terletak disebelah rumah Feisal. Feisal ingin menyapa adik kelasnya itu. Ia membawa mobilnya mendekati mobil Reza. Setelah mobil mereka berada sejajar, Feisal membuka kaca mobilnya dan Reza pun membuka kaca mobilnya. Mereka hanya saling menyapa dan tersenyum. Lalu melanjutkan perjalanan masing-masing.
“Laki-laki tadi adik kelas kita kan, Sal? Kamu kenal sama dia?”, tanya Sarah penasaran, karena Feisal terlihat begitu ramah pada lelaki tadi, Reza.
“Iya, Reza, namanya. Dia tetanggaku, makanya aku tadi nyapa dia”, jawab Feisal dengan tenang sambil berhati-hati mengendarai mobilnya.
Sarah hanya mengangguk puas dengan penjelas yang diucapkan Feisal. Sementara Feisal sendiri masih memikirkan wanita yang terlihat berada didalam mobil Reza, wanita itu tak lain adalah Fira. Feisal sangat penasaran mengapa wanita itu bisa berada di dalam mobil Reza. Apa Reza mengenalnya dengan baik?. Tanya Feisal dalam hati.
Sejak masa orientasi siswa Feisal sering memperhatikan Fira. Karena Feisal menyukai wajah mungil Fira yang selalu tampak ceria, memiliki hidung mungil, senyum manis dengan tahi lalat disamping bibir mungilnya, bola mata Fira yang bening dan berwarna coklat, serta rambut Fira yang sedikit bergelombang membuat Feisal memusatkan perhatiannya pada Fira. Fira memiliki tubuh yang sedikit berisi, tidak tinggi namun tidak pendek, dan kulitnya yang putih cerah. Hal itu membuat Feisal tertarik mengenal Fira, namun Feisal tahu Sarah tidak akan menyukai hal tersebut. Jadi hingga kini Feisal menyembunyikan semua itu dalam hati, dia tak ingin Sarah mengetahui sedikitpun.
Rasa penasaran benar-benar bersarang didiri Feisal. Ia ingin segera melontarkan banyak tanya pada Reza malam ini setelah selesai mengajak Sarah makan dan mengantar Sarah pulang. Apa Reza memiliki hubungan khusus dengan wanita tadi?. Pertanyaan itu terulang berkali-kali dalam hati Feisal selama menhabiskan waktu bersama Sarah sore itu.
Sementara itu Reza dan Fira mengahbiskan waktu bersama hingga malam. Mereka sering melakukan hal ini sejak awal persahabatan mereka dimulai. Mereka memiliki kebiasaan untuk menatap langit malam bersama sambil berlomba menghitung jumlah bintang yang menerangi langit malam. Begitupula malam ini, Fira menduduki sebuah alas diatas rumput dan Reza membaringkan tubuhnya diatas rumput disisi Fira.
                                                                        ***
Pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS siang ini telah usai. Hasilnya sudah terpampang di mading atau majalah dinding sekolah. Para murid kelas satu berdatangan mendekati mading, begitu pula Fira dan Reza. Mereka melihat nama Feisal tertulis disana sebagai ketua OSIS dan Sarah sebagai wakil ketua. Semua murid terlihat senang melihat hasilnya, mereka sangat menyukai Feisal dan Sarah yang selalu terlihat bersama kini menjadi ketua dan wakil ketua OSIS.
“Mereka benar-benar cocok yaa, sama sama pintar, kini sama sama menjadi ketua dan wakil ketua OSIS”, ucap saah satu murid disana.
Feisal dan Sarah memang murid berprestasi di sekolahnya itu. Ranking mereka selalu berada diatas murid lainnya. Mereka dikenal oleh guru-guru karena sering mengharumkan nama sekolah. Bahkan semua murid tahu dan mengenal mereka berdua dengan baik. Mereka juga sering belajar bersama, mereka memang sangat cocok, namun kenyataannya, mereka memang hanya sebatas bersahabat. Tidak lebih dari itu. Jadi tak salah jika mereka saling jatuh hati kepada wanita atau lelaki lain. Mungkin hal itu yang dirasakan oleh Feisal. Namun bagi Sarah, lelaki yang berarti untuknya hanya Feisal. Meskipun Sarah sering marah pada Feisal, sebenarnya Feisal itu sangat berarti untuknya.
“Wah, Kak Sarah dan Kak Feisal hebat yaa, Za!” ucap Fira dengan wajah sumringahnya.
“Iya. Oiya Fir, Kak Feisal itu tetanggaku. Dia pernah datang ke rumahku malam-malam”, jawab Reza dengan wajah yang terlihat membingungkan.
“Ohh. Lalu apa urusannya?”, tanya Fira heran sambil membenarkan posisi poninya yang sering jatuh menutupi matanya.
“Dia menanyakan banyak hal tentang kita, terlebih lagi tentang kamu”, jelas Reza terdengar belum cukup memuaskan Fira.
“Untuk apa?”, tanya Fira dengan mengangkat kedua alisnya.
“Entah. Aku rasa, dia menyukaimu”, wajah tampan Reza terlihat muram.
Fira masih tidak mengerti apa maksud ucapan sahabatnya itu. Wajah tampan Reza, dengan hidung mancung, matanya yang bulat dan agak besar dengan alis tebal, bibir tipisnya, dengan rambutnya yang selalu agak berantakan yang selalu terlihat menyenangkan bagi Fira, kini terlihat tak menyenangkan. Fira benar benar penasaran melihat keadaan sahabatnya yang tidak seperti biasanya itu.
“Hmm Fir, udah lupain aja kata-kataku tadi. Oiya aku dapat kabar dari Kiki, katanya nanti sepulang sekolah, anak OSIS diminta rapat di aula untuk pemilihan sekertaris dan bendahara serta sekbid lainnya”, Reza berusaha terlihat ceria kembali.
“Ohh. Hmm, iya Za! Thanks ya infonya. Yaudah kalau gitu kamu pulang duluan aja yaa, aku takut rapatnya lama, jadi gapapa kok aku pulang sendiri aja yaa”, balas Fira sambil menyarankan Reza untuk Pulang lebih dahulu. Fira sangat mengetahui kebiasaan sahabatnya ini yang selalu setia menunggunya dan menemaninya setiap hari.
“Ih apasih Fira! Aku kan sudah sering bilang, aku gak akan ninggalin kamu sendirian”, balas Reza keras. Dalam hatinya, ia sangat ingin Fira tahu bahwa ia sangat menyayangi Fira dan ia selalu ada untuknya. Reza memang tak pernah mengatakan pada Fira bahwa ia menyayangi Fira, ia hanya membiarkan hatinya berkata pada hati Fira. Ia tahu bila ia terus begini, Fira tak akan tahu tentang perasaannya, perasaan sayangnya pada Fira lebih dari seorang sahabat. Namun Reza tahu, Fira hanya menaganggapnya seorang sahabat.
“Aku cuma takut kamu terlalu lamamenunggu, Reza”, jawab Fira lembut dengan senyum manisnya. Fira sangat senang dengan perhatian sahabatnya ini. Meskipun dia harus sering menahan rasa cemburunya jika sahabatnya sudah dihampiri teman teman wanitanya, tetapi Fira selalu mendapatkan perhatian lebih dari Reza.
“Gapapa. Aku kan nunggu kamu sambil main game hahaha” Jawab Reza sambil memberantaki rambut Fira yang memang sudah berantakan. Fira lebih senang membiarkan rambutnya agak berantakan daripada tersisir rapi. Mereka melanjutkan langkah mereka menuju kelas dan melanjutkan pelajaran hari itu.
                                                       ***
Rapat OSIS sore ini selesai semua pengurus telah terpilih. Fira segera keluar ruangan ketika teringat Reza menunggunya. Fira khawatir dengan keadaan Reza karena rapatnya lumayan lama. Fira mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Reza dan ingin segera menelfon Reza sebelum tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dari belakang.
“Defira!”, suaranya terdengar semakin dekat, membuat Fira membelokan tubuhkan ke belakang.
“Kak Feisal? Ada apa?”, tanya Fira dengan senyumnya berusa sopan dihadapan kakak kelasnya.
“Hmm ga ada apa-apa. Selamat yaa kamu jadi sekertasris”, balas Feisal
“Eh? Iya makasih yaa, Kak! Selamat juga ya, Kak Feisal jadi ketua OSIS! Oiya kak Sarah kok gak keliahatan ya pas rapat tadi? Biasanya bareng sama kak Feisal?”, tanya Fira sambil menahan perasaan senang. Fira sebenarnya sangat mengagumi Feisal, Fira menyukai sosok Feisal yang dikenal sangat berprestasi dan ramah, Fira juga menyukai postur tubuh kakak kelasnya ini yang terlihat rapi setiap berpakaian, namun tidak terlihat culun, justru terlihat sangat kere.
“Haha iya makasih ya, Fir! Fir, panggil aku Isal aja biar gak ribet. Oiya Sarah lagi ada urusan keluarga jadi dia gak bisa ikut rapat” jelas Feisal, “Oiya kamu pulang sama siapa? Bareng aku aja yuk, nanti aku antar sampai rumah kok, tentunya”, ajak Feisal tanpa basa basi dengan wajah sumringahnya.
“Ha? Oke. Hmm makasih kak, tapi tadi aku udah janjian pulang bareng Reza, jadi kayaknya lain waktu aja yaa kak” jawab Fira dengan perasaan senang. Walaupun dia menyukai sosok Feisal, namun sahabatnya selalu lebih dia utamakan.
Tiba-tiba Reza datang menghampiri Fira dan Feisal. Kedatangannya cukup mengagetkan Fira dan Feisal yang sedang bercakap-cakapan.
“Eh Reza! Kamu dari mana? Maaf yaa kamu pasti udah bosen yaa nunggu aku daritadi, lagian kan aku udah bilang ....”, sebelum Fira sempat menyelesaikan ucapannya, Reza segera menyambar.
“Fira berhenti! Iya iya kamu tahu sendiri kan aku pasti bosen kalau kelamaan gini tapi aku gak akan bosen mengulangi hal ini sampai kapanpun” jelas Reza tiba-tiba membuat keadaan menjadi sunyi. Mata mereka bertiga saling tatap menatap bergantian.
“Kalian lucu banget ya! Yaudah gue pulang duluan ya Za! Jaga Fira ya”,ucap Feisal singkat dan segera memasuki mobilnya dan melaju pulang.
Fira benar-benar tidak mengerti. “Za, Kak Feisal kok tiba-tiba aneh gitu ya pas kamu datang? Oiya aku punya info buat kamu. Aku ditunjuk buat jadi sekertaris OSIS, kak Feisal yang menyarankan agar aku menjadi sekertaris. Kak Feisal benar benar baik ya seperti yang dibicarakan banyak orang”, Fira menceritakan kebahagiaannya itu sambil berjalan menuju mobil Reza dengan wajah cerianya. Fira memang senang menceritakan segala hal pada Reza. Reza adalah pendengar yang baik bagi Fira. Reza selalu mendengar semua cerita Fira dengan antusias. Reza pun sangat senang mendengar cerita Fira. Lebih tepatnya memerhatkan gerak gerak dan raut wajah Fira ketika bercerita.
Namun tak terdengar jawab dari Reza. Reza hanya menunduk dan mngendarai mobil mengantar Fira pulang ke rumah.
***
            Hari-hari terus berjalan. Tidak ada yang berubah dari diri seorang Reza. Dia tetap menunggu Fira sepulang sekolah. Menghabiskan waktunya menunggu Fira bukan hal buruk baginya meski akhir-akhir ini penantiannya terasa sia-sia. Akhir-akhir ini Fira sangat sibuk mengerjakan tugasnya sebagai sekertaris OSIS. Fira menjadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama Feisal. Sebenarnya Reza sangat takut melihat keadaan ini, selain takut akan kondisi kesehatan Fira yang melemah akibat kelelahan, Reza juga takut kehilangan Fira.
            Hingga suatu hari di sore hari Reza menghampiri Fira sepulang sekolah. “Fira, Fir!”, ucap Reza dengan hangat, dengan nada penuh kerinduan. “Iya? Ada apa, Za?” jawab Fira tanpa sedikitpun melihat Reza.
            “Hmm kamu masih sibuk ya, Fir? Hari ini aku mau ngajak kamu makan. Aku mau jujur Fir sama kamu. Aku kangen banget sama semua kebiasaan kita dulu. Akhir-akhir ini kamu sibuk banget sama tugas OSIS-mu.” Ucap Reza serius sambil duduk dihadapan Fira.
            “Reza? Kamu kenapa? Kamu sakit ya? Kok kamu ngomong gitu sih?”, kini Fira menatap Reza lekat-lekat. Raut wajah Reza terlihat sangat murung. Tapi sayangnya Fira benar-benar sedang sibuk.
            “Hai, Fir! Progresnya sudah sampaimana? Proposal harus sudah selesai ya minggu ini”, tiba-tiba seorang lelaki dewasa itu datang mendekati Fira, tentunya lelaki itu adalah Feisal. Dia bertanya dengan ramah pada Fira, hal itu memancing kecemburuan Reza.
            “Ohh. Ini sudah hampir selesai kak! Hmm tapi aku belum tahu minggu ini sudah dapat selesai atau belum dan ....” Jawab Fira bersemangat dengan wajah yang sumringah kepada Feisal. Kini mereka bercakap-cakap berdua seolah Reza tidak ada disisi mereka.
            Sebaiknya aku pergi. Bisik Reza dalam hati. Reza pun dengan sangat keras mengeluarkan tenaganya menyeret kakinya untuk menjauh dari tempat itu.
            Reza tidak mengerti apa yang terjadi diantara Fira dan Feisal. Fira dan Feisal selalu terlihat sangat asik jika sedang bercakap-cakap berdua. Reza bertanya-tanya dalam hatinya sambil memperhatikan mereka dari kejauhan, bukankah Feisal memiliki hubungan dengan Sarah, lalu apa maksud dia mendekati Fira dan mengambil alih perhatian Fira kepadanya? Aku tidak akan membiarkan Feisal merebut Fira.
                                                                        ***     
“Sarah! Apakah kau punya waktu untukku? Sebentar saja..” Ucap Reza terburu-buru.
“Ada perlu apa? Aku tak punya banyak waktu”, jawab Sarah ketus. Seperti biasanya, Sarah selalu menaggapi orang yang begitu ia kenal dengan serius. Sebenarnya Sarah adalah gadis yang cantik dan ramah, apalagi pada orang-orang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya apa ada hubungan spesial antara kau dengan Feisal? Hmm sebelumnya maaf jika aku lancang’, tanya Reza terburu-buru tanpa basa-basi.
Sarah terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Sarah tak memedulikannya. “Pertanyaan yang tidak penting. Waktuku terlalu berharga jika kuhabiskan untuk membahas hal ini” Jawabnya datar sambil terus melangkahkan kakinya.
“Tunggu! Sarah, aku tahu. Kau mencintai Feisal. Kau sama denganku. Aku mencintai Fira. Namun semenjak Fira mengenal Feisal, aku kehilangan waktu bersama Fira. Aku tahu, pasti kau juga merasakan hal yang sama. Aku takut kehilangan Fira, kau juga pasti takut kehilangan Feisal, kan?”, kata-kata Reza memaksa Sarah mengakui bahwa hal itu benar.
“Kau sangat lancang. Aku tak pernah bertemu orang sepertimu sebelumnya.” Sarah terdiam sejenak,“Baiklah, aku akui kau benar.  Ayo duduk dan bicarakan ini ditaman sekolah”
“Ha?” Reza tak percaya Sarah bisa diluluhkan dengan mudah olehnya.
Mereka berdua berjalan menuju taman sekolah. Mereka duduk dan saling bercerita.
“Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti? Aku sangat merasakannya. Aku dan Feisal sudah bersahabat sejak kecil. Kami selalu mengahabiskan waktu bersama, entah itu untuk belajar maupun bermain. Tak ada hari tanpa kehadirannya. Hari-hariku begitu berwarna selama ia menemaniku, hingga ia membuatku jatuh hati padanya. Namun sekarang, semenjak ia mengenal gadis itu, ia tak pernah lagi memiliki waktu untukku. Namun hingga kini aku masih menunggunya, karena aku masih sangat mengingat janjinya, dia bilang dia akan selalu bersamaku sampai kapanpun karena dia menyayangiku. Mungkin aku ambigu dengan janjinya itu, mungkin sebenarnya dia hanya mengganggapku sebagai sahabatnya karena buktinya kini dia tidak bersamaku. Aku benci kepada gadis itu, dia merebut Feisal dariku”, Sarah mengeluarkan seluruh isi hatinya, suaranya terdengar sangat lemah, Reza paham Sarah sangat merasa kehilangan, seperti apa yang ia rasakan. Kini air mata yang sedaritadi tertahan dimata Sarah telah jatuh membasahi wajah cantiknya.
“Sarah! Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku paham perasaanmu, Aku juga mencintai Defira. Kami sudah lama bersahabat, Aku selalu menaruh perhatianku penuh kepadanya, namun sekarang semenjak Fira mengenal Feisal, aku sangat merasa kehilangan Fira.” Jawab Reza sambil menunduk, Reza tak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. “Ini. Hapus air matamu”, Reza memberika saputangannya kepada Sarah. Namun Sarah terlihat sangat sedih hingga Reza melingkarkan tangannya di bahu Sarah.
Namun ternyata Fira melihat kejadian itu dari kejauhan. Fira tidak mendengar percakapan antara Reza dan Sarah. Namun Fira tak mengerti mengapa rasanya sakit melihat Reza bersama wanita lain. Fira menyadarkan dirinya untuk sadar bahwa Reza adalah sahabatnya dan tak seharusnya ia cemburu.
“Za, sebenarnya aku gak pernah paham bagaimana perasaanku terhadap  kamu. Aku menyayangimu sebagai sahabatku tapi aku ga mau kamu dimiliki orang lain, aku ingin kamu selalu didekatku, bersamaku. Bahkan sekarang aku juga ga ngerti kenapa rasanya sakit melihatmu dekat dengan Sarah” ucap Fira dalam hati dan tak sadar air matanya mulai berlinang.
                                                       ***
“Kak, makasih yaa”, ucap Fira dengan sopan dan menundukan kepala. Fira menghabiskan waktunya bersama Feisal. Mereka berjalan jalan di taman kota sambil mencicipi berbagai macam makanan yang ada disana. Akhir-akhir ini mereka sering menghabiskan waktu bersama. Awalnya mereka hanya sekedar ingin mengerjakan tugas-tugas OSIS, namun lama-kelamaan Fira dan Feisal merasakan suatu hal yang sama. Nyaman....
“Iya sama sama, Fir” jawab Feisal sambil menatap Fira dengan senyumnya. Fira benar benar dibuat jatuh hati pada Feisal saat itu. Mereka menghabiskan waktu dengan segala keasikan serta canda dan tawa yang tiada henti.
Namun dibalik senyum bahagia Fira hari itu terdapat sebuah tanya di hatinya yang selama ini tak pernah terjawab. Fira merasa bahwa hari itu adalah waktu yang tepat untuk mendapat jawaban dari kebingungan hatinya selama ini.
“Kak Feisal, aku ingin bertanya, sebenarnya pertanyaan ini tidak harus dijawab jika kakak tidak mau menjawabnya”, ucap Fira dengan lembut.
“Mau nanya apa, Fir? Pasti aku jawab kok” jawab Feisal dengan senyumnya yang masih mengembang sedaritadi.
“Sebelumnya maaf jika pertanyaanku ini terlalu lancang, aku hanya ingin tahu sebenarnya ada hubungan apa antara kakak dengan kak Sarah?”, dengan penuh keberanian karena keingintahuannya, Fira melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya.
“Aku? Aku... hmm aku hanya bersahabat dengan Sarah” jawab Feisal terkejut. Kini senyumnya hilang, hanya tersisa raut wajah yang terlihat agak panik.
“Kakak yakin? Hmm maksudku apa kakak yakin tidak ada hubungan lebih diantara kalian? Atau mungkin perasaan yang  lebih dari rasa sayang seorang sahabat? Atau maksudku apa kakak mecintainya? Hmm atau kurasa sebaiknya kakak lupakan saja pertanyaanku” ucap Fira dengan cepat. Kini mereka terlihat canggung. Pertanyaan yang Fira lontarkan membuat Feisal terdiam dan merubah suasana.
Fira benar-benar menyesal atas ucapannya. Ia takut kata-katanya terlalu lancang dan membuat Feisal marah. Kini Fira hanya menundukkan kepala dengan debar jantung yang begitu cepat dan kencang, saat itu ia hanya berharap semoga detak jantungnya tidak terdengar oleh Feisal.
“Fir, apa kamu benar-benar ingin tau jawabanku?”, tanya Feisal memecah sunyi.
Fira hanya terdiam. Bahkan ia menundukan kepalanya. Ia tidak memilikikeberanian untuk menatap kakak kelasnya itu. Melihat sikap Fira seperti itu membuat Feisal memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi.
“Sebenarnya aku dan Sarah memang hanya bersahabat, kami bersahabat sejak kecil. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Seiring berjalannya waktu, kami...kami merasa saling memiliki. Namun jujur hingga saat ini aku belum paham dengan perasaanku. Aku sempat mencintainya, namun rasa ini memudar setelah Sarah berubah. Awalnya dia adalah gadis yang selalu ceria, dia membuat hari-hariku penuh warna. Tapi sekarang dia lebih sering menjauhiku, dia tidak lagi terlihat ceria, dia sering marah padaku. Hal itu membuatku lelah karena aku harus berkali-kali meminta maaf padanya tanpa kuketahui kesalahanku, namun aku tak pernah menyerah untuk membahagiakannya dan sebenarnya aku melakukan itu semua karena aku takut kehilangan Sarah.”, jelas Feisal panjang lebar “Dan sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu. Kamu membuatku lebih bersemangat menjalani semuanya karena keceriaan yang kamu miliki, Fir. Keceriaanmu mengingatkanku pada Sarah. Aku melihat ada kemiripan diantara kalian, aku melihat Sarah setiap kali aku melihatmu Fir. Kebiasaan yang Sarah miliki ada pada dirimu, Fir!”.
“Apa? Aku tidak mengerti.”, tanya Fira dengan suara yang terdengar rapuh. Hatinya terasa sakit. Apa maksud semua ini?, tanyanya dalam hati. Kak Feisal. Dia tidak sadar dia telah membuatku jatuh hati padanya, dan kini dia benar-benar membuatku ingin membencinya setelah ku tau dia hanya menjadikanku sebagai pelampiasan rasa kehilangannya, lanjut Fira dalam hati.
“Maaf, Fir. Aku ga ada rmaksud menyakiti perasaanmu. Aku memang menemukan keceriaan Sarah yang aku rindukan ada pada dirimu. Namun itu bukan alasanku mengapa aku mendekatimu. Aku benar-benar menyayangimu Fir! Bukan karena kemiripanmu dengan Sarah, bukan karena aku melihat sifat Sarah yang ada pada dirimu. Tapi karena aku menyayangimu.... aku menyayangimu sebagai adikku sendiri”, jelas Feisal panjang lebar, ia benar-benar takut salah kata, ia benar-benar tak ingin Fira salah paham.
“Jadi selama ini kakak menyayangiku sebagai adik kakak?”, Airmata Fira mulai menetes membasahi pipinya. Rasanya sakit mendengar semua penjelasan Feisal, sakitt sekali...
“Iya aku sudah mengaggapmu sebagai adikku sendiri, Fir. Aku tidak bermaksud membuatmu jatuh hati padaku dan merasakan hal lebih dari rasa sayang seorang saudara, kumohon jangan menangis” Feisal paham dengan apa yang dirasakan Fira, dengan segala rasa bersalahnya, ia memeluk Fira. Ia meletakan kepala Fira didadanya dan memeluk Fira. Ia tau Fira membutuhkan tempat bersandar.
Isak tangis Fira semakin menjadi-jadi setelah ia merasa sebuah kehangatan dari  seorang lelaki yang kini memeluknya. Pelukan Feisal membuat Fira merasakan kenyamanan sehingga tangan mungil Fira kini melingkar ditubuh Feisal. Jangan lepaskan pelukanmu, kumohon, tetaplah seperti ini, sebentar saja...Ucap Fira dalam hatinya sambil mengeratkan peluknya.
Disisi lain Feisal merasa sangat bersalah. Ia merasa telah menyakini hati seorrang gadis yang ia sayangi sebagai adik dan ternyata menyayanginya lebih dari seorang kakak. Kini ia merasakan tangan mungil Fira melingkar ditubuhnya dengan lembut. Pelukan Fira semakin lama semakin erat, Feisal pun mengeratkan pelukkannya ditubuh Fira untuk membuat perasaan Fira membaik dan membuat Fira nyaman.
***
Feisal berniat untuk mengajak Sarah makan sepulang sekolah dan menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Feisal sadar bahwa ia sangat merindukan hal-hal yang dulu sering ia lakukan bersama Sarah, lebih tepatnya ia merindukan Sarah, gadis yang sebenarnya ia cintai.
“Sarah, hari ini ga ada kegiatan lagi, kan? Makan yuk!” Sapa Feisal dengan wajah cerianya.
“Aku tidak bisa”, jawab Sarah ketus. Sebenarnya Sarah sangat sulit untuk menolak ajakan lelaki yang ia cintai itu namun ia harus melakukannya agar bisa melupakan Feisal. Ia melangkahkan kakinya membuat jaraknya dengan Feisal semakin jauh.
“Sarah tunggu! Sarah aku tau kamu marah, aku tau aku selalu salah. Tapi sekarang aku mohon, jangan pergi. Aku cuma mau kamu tau, aku sangat merindukanmu”, ucap Feisal dengan tegas.
Feisal hanya terdiam melihat Sarah dari belakang. Ia melihat Sarah menghentikan langkah kakinya setelah mendengar ucapannya.
“I am tired of you proving me wrong everytime. I am tired of holding on for nothing. But I won’t give up. Because I love you”, lanjut Feisal dengan suara yang lebih keras, ia sudah tidak kuat menahan perasaan yang selama ini ia pendam.
“She is better than me” ucap Sarah dengan suara yang terdengar rapuh, Ia meneteskan air matanya. Kata-kata Feisal membuatnya merasa bersalah atas sikapnya selama ini.
“She is better than you, but you are the best for me, my heart say that” lanjut Feisal “I just love you”, tambah Feisal menegaskan ucapannya.
Tubuh sarah kaku, ia terdiam mendengar semua ucapan Feisal. Saat itu Sarah hanya bisa ia mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, airmata tak mampu lagi ditahannya. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah. Ia membiarkan airmatanya yang hangat semakin deras membasahi pipinya.
Feisal menyadari bahwa Sarah menangis. Ia melangkahkan kakinya mendekati Sarah. Kini ia berada tepat dibelakang Sarah. Sarah menyadari keberadaan Feisal didekatnya dan dia berkata “Maafkan aku”. Feisal pun menjawabnya “Gapapa Sar, yang penting kamu udah tau, aku sayang kamu”. Sarah merasa tidak kuat, ia membalikkan badannya dan melingkarkan tangannya dengan erat di tubuh Feisal. “Aku mencintaimu” ucap Sarah sambil menumpahkan tangis dalam peluknya. Feisa pun memeluk Sarah dengan sangat erat, “Aku mengerti” balas Feisal dengan singkat. Feisal memeluk Sarah dengan erat sambil mengelus rambut Sarah dengan lembut.
Feisal terus menenangkan Sarah, mencoba menghentikan tangis gadis yang ia cintai itu. Namun ia terkejut saat melihat seorang perempuan di kejauhan, perempuan itu terdiam sejenak dan membalikan badan lalu berlari menjauh dari tempatnya. Feisal tau perempuan yang dia lihat adalah Fira. Feisal ingin sekali mengejar dan meminta maaf namun ia lebih memilih diam bersama gadis yang ia cintai.
Ternya Reza pun melaihat kejadian itu. Reza tahu Fira sangat sedih melihat kejadian tersebut dan itu membuat Reza ingin menghajar Feisal namun ia menahan semua perasaan kesalnya dan segera mengejar Fira.
“Fir, tunggu”, teriak Reza sambil mengejar Fira dan berusaha mendekati Fira. Namun Fira tak menghiraukan sahabatnya itu, ia terus melangkahkan kakinya.
“Fir berhenti, Fir aku paham perasaan kamu” ucap Reza sambil memegang tangan Fira. Reza berhasil mengejar dan mendekati Fira. “Fira aku paham, Fir”, lanjut Reza mencoba menenangkan Fira.
“Reza aku bodoh, aku sangat menyesal, Za”, ucap Fira dengan airmata yang tetes demi tetesnya membasahi pipinya. Fira segera membalikan badan ke arah Reza dan memeluk Reza dengan sangat erat dan membuat Rezaterkejut dan segera memeluk Fira dengan lembut. Fira mengeluarkan semua kesedihannya dengan tangis dalam pelukan Reza hingga airmatanya membasahi seragam yang dikenai Reza.
“Kamu nggak bodoh Fir, kamu nggak bodoh”, ucap Reza menenangkan Fira sambil memeluk Fira dengan erat dan mengelus rambut Fira. Reza memang selalu rela menjadi apapun untuk Fira, Reza rela menjadi tempat Fira bersandar saat Fira sedang sedih seperti saat ini walaupun selama ini Fira selalu menyakiti hatinya setiap melihat Fira dekat dengan Feisal.
“Za, harusnya aku tau kak Feisal itu sayang sama kak Sarah, harusnya aku sadar kak Feisal gamungkin memiliki rasa sayang buat aku lebih dari rasa sayang terhadap seorang adik, harusnya aku.....”, sebelum Fira sempat menyelesaikan kata-katanya Reza melepaskan pelukannya dan memegang wajah Fira sambil berkata “Udah Fir, udah cukup. Jangan salahin diri kamu sendiri, ini bukan salah kamu”, Reza menatap mata Fira lekat-lekat sambil memegang wajah Fira dengan lembut hingga mereka bertatapan dan memberikan senyumnya pada Fira. Hal ini membuat Fira merasa bersalah karena selama ini sering melupakan Reza yang selalu ada untuknnya. Fira juga baru sadar bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi Reza, menyayangi Reza lebih dari seorang sahabat. Fira sadar bahwa segala kecemburuannya setiap melihat Reza dekat dengan perempuan lain mengartikan bahwa ia menyukai Reza, ia menyayangi Reza.
“Reza aku sayang kamu”, ucap Fira secara tibatiba sambil menatap Reza.
“Iya aku juga sayang kamu kok, Fir”, balas Reza sambil membuka tangannya membiarkan Fira memeluknya hingga akhirnya Fira memeluknya lagi dan Reza pun memeluk Fira dengan penuh rasa sayang.
Andai aja kamu tau Fir, rasa sayang yang aku miliki buat kamu lebih dari rasa sayang yang kamu miliki buat aku, aku tahu kamu menyayangiku namun hanya sebatas rasa sayang seorang sahabat, dan rasa sayang yang kamu miliki gak akan pernah lebih dari itu. Ucap Reza dalam hati sambil tetap memeluk Fira. Tapi aku bakal tetap setia nunggu kamu Fir sampai kamu menyayangiku lebih dari seorang sahabat, meskipun itu mustahil. Dan saat ini kamu benar-benar membuatku merasa nyaman dalam pelukmu, aku tak akan melepaskan pelukanku Fir, aku ingin tetap begini, aku gamau kamu pergi. Lanjut Reza dalam hatinya.
“Fir jangan sedih lagi yaa, aku bakal selalu ada buata kamu, aku bakal selalu nemenin kamu, aku bakal selalu jadi....jadi sahabatmu, iya sahabatmu”ucap Reza mencoba menghibur Fira. “Oiya besok aku mau ngajak kamu mengunjungi suatu tempat, aku punya kejutan buat kamu” lanjut Reza dengan wajah sumringah.
“Serius? Wah, kejutan apa?” kini wajah Fira terlihat lebih ceria, “Oiya makasih yaa, Za kamu sahabat terbaikku tapi sebenarnya aku....hmm ah sudahlah lupakan saja” lanjut Fira dengan senyum manisnya yang kini mulai terlihat. Sebenarnya saat itu Fira ingin mengatakan bahwa ia menyayangi Reza lebih dari rasa sayang seorang sahabat. Ia ingin mengatakan bahwa sebenarnya yang benar-benar membuatnya jatuh hati adalah Reza, namun Fira merasa saat itu bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, dan sebenarnya alasan lain yang membuat Fira tidak mengungkapkan perasaannya adalah perkataan Reza, saat Reza mengatakan bahwa Reza akan selalu menjadi sahabatnya, saat itulah Fira dibuat ragu, hal itu membuat Fira berfikir bahwa Reza hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat, menyayanginya sebagai sahabat yang baik, tak lebih...
“Iyaa lihat saja besok! Pokoknya besok pagi kamu datang ke taman kota, aku bakal ada disana sebelum kamu datang” jawab Reza dengan senyum khasnya. “Oiya Fir, tadi kamu mau bilang apa? Kok langsung minta aku lupain kata-katamu sih?” tanya Reza dengan raut wajah penuh tanya. “Hmm gapapa, gak bilang apa-apa kok” jawab Fira mencoba terlihat tidak menyembunyikan sesuatu.
Sore itu mereka menghabiskan waktu bersama. Sayangnya mereka tidak saling mengetahui perasaan mereka satu sama lain.
                                                        ***
Rabu pagi di taman kota Reza telah duduk di sebuah bangku untuk menunggu Fira. Tak lama kemudian terlihat sosok perempuan mendekat dari kejauhan dan tentunya perempuan itu adalah Fira. Reza melambaikan tangan pada Fira dan Fira membalasnya dengan senyuman manis sambil terus mendekati Reza dan duduk disisi Reza. Mereka bercakap-cakap dengan penuh canda tawa. Mereka membeli semua jajanan yang ada disana. Fira berniat mengungkapkan perasaannya kepada Reza hari itu namun Fira terus menahan. Begitupula Reza, ia berniat untuk mengungkapkan perasaannya hari itu juga. Hingga akhirnya Reza memulai pembicaraan.
“Fir, kamu inget kan aku bilang aku punya kejutan buat kamu? Aku mau ngasih kejutan itu sekarang. Tunggu ya”, Reza baru saja ingin mengambil suatu benda buatannya untuk Fira sebelum ia menerima sebuah panggilan di ponselnya.
Reza mengangkat ponselnya dan....”Halo, apakah anda Reza? Putra dari Ibu Indira?”,ucap seorang lelaki dari ujung ponsel.
“Iya benar, ada apa?”, jawab Reza agak panik.
“Ibu Indira mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya sedang kritis di rumah sakit Edo Hospital, kami harap anda segera datang karena Ibu Indira sempat menyebut-nyebut nama anda”, ucapan lelaki itu membuat seluruh tubuh Reza melemas dan rapuh.
Fira pun panik melihat raut wajah Reza, “Ada apa, Za?”. Tanya Fira panik. Namun Reza tidak sempat menjawab pertanyaan Fira. Ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit untuk menemui wanita yang paling ia sayangi yang kini berada dalam kondisi kritis, ibunya. “Reza kamu mau kemana? Reza kita lagi main kok kamu tega sih?” Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Reza saat ia hendak pergi dan ia meninggalkan Fira begitu saja. Hal itu membuat Fira kecewa dan bersedih.
Kini Fira berdiam seorang diri di taman kota. Air matanya mulai bertetesan, ia sangat sedih karena Reza meninggalkannya begitu saja. Ia tidak tahu apa yang terjadi, yang ia tahu saat itu hatinya benar-benar terluka. “Reza aku mencintaimu” ucap Fira dengan rapuh saat Reza telah pergi meninggalkannya. Fira tau Reza tidak akan mendengarnya, namun hanya itu yang bisa ia lakukan.
Fira tetap berdiam diri di taman itu hingga langit gelap. Namun tiba-tiba sebuah panggilan di ponselnya mengejutkannya. Ia menerima panggilan dari kakaknya.
“Fir kamu dimana?” tanya Andre.
“Aku di taman kak, ada apa?” jawab Fira dengan suara yang rapuh.
“Reza kecelakaan Fir, kamu tenang ya, kakak akan segera menjemputmu”, Fira mendengar suara kakaknya dengan jelas namun ia tak mempercayai apa yang diucapkan kakaknya. Ia berharap pendengarannya salah. Namun tubuhnya sudah melemas, tubuhnya terjatuh.
                                                        ***
Fira membuka matanya. Ia kini berada di dalam ruang kamarnya. Kepalanya masih terasa sakit, tubuhnya masih terasa lemas. Tiba-tiba tetes demi tetes air matanya membasahi wajahnya. Hatinya terasa sangat sakit. Ia teringat kabar terakhir Reza yang ia dapat dari kakaknya. Ia terduduk dan menggelengkan kepalanya masih tak mempercayai apa yang diberitakan kakaknya.
“Fir, udah enakan?”, tanya Andre saat memasuki kamar Fira.
“Iya, kak. Kak, ceritain ke aku sekarang juga kalau kakak bohong! Pasti kakak cuma bercanda, kan? Reza ga kecelakaan, kan?”, tanya Fira dengan panik sambil memegang erat lengan Andre yang duduk disebelahnya.
“Maaf Fir, aku gakbisa bohong, Reza kecelakaan. Sekarang kondisinya masih kritis, tadinya kaka mau jemput kamu untuk ke rumah sakit, tapi bahkan kamu sudah pingsan di taman, jadi kakak bawa kamu pulang. Hmm...Fira sekarang kamu istirahat aja ya”, jawab Andre dengan pelan. Andre tahu adiknya sangat menghawatirkan Reza.
Mendengar jawaban kakaknya, Fira hanya dapat terdiam merasa semakin lemas, semakin lemah.
“Antar Fira ke rumah sakit, Kak! Sekarang” Ucap Fira dengan suara lemah karena tangisnya.
“Fir, kamu harus istirahat, Fir”, jawab Andre sambil merangkul adik kesayangannya itu.
Andre membiarkan Fira menangis hingga terdengar dering ponsel Andre yang membuat mereka berdua segera mendekati ponsel itu dan menerima panggilan.
“Halo, saudara Andre?”, ucap seorang lelaki, “Maaf saya dari pihak rumah sakit, seorang pasien kami bernama Reza meminta anda dan adik anda untuk datang ke rumah sakit. Reza sedang dalam keadaan yang benar-benar kritis, saya harap anda segera datang ke rumah sakit”
“Baik, pak. Terimakasih”, balas Andre singkat. Andre terkejut. Ia terdiam sebentar. Ia menatap Fira lalu menarik tangan Fira untuk segera menaiki mobil dan berangkat menuju rumah sakit. Mereka berangkat dengan terburu-buru.
Dalam perjalanan Fira terus bertanya apa yang terjadi. Fira sangat khawatir dengan keadaan Reza karena kakaknya itu tak memberitahu kabar apapun mengenai Reza, namun Andre tak berani menberi jawaban sebelum sampai di rumah sakit karena ia tahu adiknya akan sangat sedih. Andre mengendarai mobil dengan kecepatan penuh sehingga sampai ke rumah sakit hanya dalam beberapa menit.
Sesampainya di rumah sakit air mata Fira mulai berjatuhan. Ia takut sesuatu terjadi pada Reza. Detak jantung Fira semakin cepat, ia berlari mencari ruangan dimana Reza berada. Langkah kakinya semakin cepat, Ia mengeluarkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk menemui Reza.
Hingga akhirnya ia berada di depan ruang yang ia cari. Ia menemukan Reza didalam ruangan itu. Keadaan Reza sangat parah. Seluruh tubuh Fira semakin melemas, dengan sekuat tenaganya, ia berlari mendekati Reza yang sedang terbaring dan memeluk Reza. Fira tak mampu lagi melakukan hal apapun, ia hanya bisa menangis sambil memeluk Reza dengan sangat erat. Air matanya sangat deras membasahi wajahnya. Bahkan Fira tak sadar kedua orangtua Reza berada dalam ruangan itu.
“Reza...bangun Rezaaa”, ucap Fira dengan volume suara tinggi, ia tak mampu menahan kesedihannya.
“Firaa, sabar Fir, sabar. Tante juga sedih, tapi kita harus ikhlasin Reza, Fir. Biarkan Reza istirahat di alam sana”, ucap ibu Reza menenangkan Fira.
Fira sangat terkejut mendengar ucapan ibunya Reza. “Tante? Apa maksud tante ucapin itu ke Fira? Reza masih hidup tante”, jawab Fira penuh emosi, Fira amat sangat tak menginginkan Reza meninggalkannya.
Fira masih terus memeluk Reza sambil menangis. Ia tak mau melepaskan pelukkannya, ia tak ingin Reza pergi. “Za, jangan tinggalin aku, Za. Aku mohon. Reza tolong buka mata kamu, Reza dengerin aku, Zaa... Rezaaa aku sayang sama kamuu...” ucap Fira dengan sangat lirih, suaranya melemah.
Kedua orang tua Reza dan Andre ikut bersedih melihat kejadian itu. Namun mereka tak mampu melakukan apapun. Reza telah pergi. Mereka membiarkan Fira mengeluarkan semua air matanya saat itu. Mereka paham perasaan Fira.
Malam itu Fira tertidur di ruangan itu. Ia tertidur sambil memeluk Reza, tak sedikitpun tangannya bergerak. Fira terlelap di ruangan itu.
                                            ***
Pagi ini pemakaman Reza akan dilaksanakan. Fira masih terus menangis, air mata tak henti-hentinya berhenti mengalir. Fira menggunakan pakaian berwarna hitam. Air matanya semakin menjadi-jadi saat pemakaman Reza telah selesai, karena ia tahu ia tak akan lagi bisa melihat Reza, karena ia tahu itu adalah saat terakhir ia melihat Reza. Ia tahu ia akan sangat merindukan Reza.
***
Beberapa hari setelah pemakaman Reza, Fira menerima sebuah memory card dari Sarah “Fira, ini untukmu, Reza menitipkannya padakku sebelum kepergiannya, aku turut berduka, jangan sering bersedih ya Fir, .Ia membuka dan melihat file dalam memory itu. Ada sebuah video. Fira membukannya.
Tiba-tiba air matanya pecah. Tetes demi tetes semakin deras. Hatinya sakit. Dalam video itu ia melihat Reza. Ternyata Reza merekam dirinya sebelum kepergiannya. Fira menekan tombol Play. Ia menyaksikan video Reza.
“Hai, Firaaaa. Kamu baik-baik aja kan?”, Wajah Reza terlihat sangat bahagia dalam video itu, wajah Reza yang sangat dikenal Fira benar-benar membuat Fira semakin merindukkannya. Bagaimana tidak, Fira benar-benar mengenal setiap bagian hingga lekuk demi lekuk wajah Reza, bagaimana cara Reza tersenyum, bagaimana cara Reza berbicara, Fira sangat mengenal semua hal tersebut.
“Firaaa”, lanjut Reza dalam videonya, raut wajahnya memelas, “Fira, aku disini cuma mau bilang, aku gamau kehilangan kamu, Fir. Aku mau kamu tau kalau aku kangen banget sama kamu....Akhir-akhir ini kamu jarang banget main bareng sama aku, dan itu bikin aku benar-benar kesepian Fir, aku kangen ngabisin waktu bareng kamu, aku kangen melakukan hal-hal gila bareng kamu, aku kangen bercanda dan belajar bareng kamu, aku kangen dengerin curhatan kamu, aku kangen perhatianmu, aku merindukan segalanya tentang kita. Aku kangen kamu, Fir. Aku takut kehilangan kamu, hampa banget rasanya jalani hari tanpa kamu....Maaf kalau aku gabisa bikin kamu nyaman sama aku sampai kamu menjauh dari aku. Aku tau, Fir, kamu cuma nganggap aku sahabatmu, tapi maaf Fir, aku ga bisa bohongi perasaanku sendiri....Aku sayang sama kamu Fir, lebih dari rasa sayang seorang sahabat. Maaf kalau kamu ga suka akan hal itu, tapi begitulah kenyataannya, aku sayang kamu, Fir. Selama ini aku emang ga pernah ngungkapin perasaanku, aku hanya bisa membiarkan hatiku yang mengungkapkannya walau aku tau kamu gak akan bisa tau isi hatikku kalau aku ga ngungkapin. Tapi ini semua aku lakuin agar hubungan persahabat kita gak hancur”, Fira menangis selama melihat Reza mengungkapkan semuanya dalam video itu.
                                                        ***

Ia terduduk lemas dibangku kamarnya. Tubuhnya begitu rapuh. Ia hanya ingin berada di ruang kamar seorang diri. Tanpa gangguan dari siapapun. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus melakukan apa. Ponselnya yang terus berdering tak ia hiraukan. Sekali lagi, ia benar benar tidak ingin melakukan apapun. Ia merasa sangat lelah, ia tidak kuat menerima apa yang sebenarnya terjadi. Karena rasanya sangat sakit. Sakit sekali...
 Ia hanya butuh waktu untuk memperbaiki keadaannya, menyembuhkan luka dihatinya, menghilangkan perih yang ia rasakan, dan membiarkan tangis membasahi pipinya. Tetesan air mata yang berlinang terasa hangat. Ia tahu hal ini dapat membuat keadaannya membaik. Ia hanya tak tahu, entah kapan perih di hatinya dapat terobati. Entah sampai kapan sedih ini akan menemaninya disetiap hari-harinya.
Matanya tergerak menatap keluar jendela. Ia dapat melihat banyak bintang yang cahayanya menerangi gelap malam. Bintang-bintang terlihat cantik menghiasi langit. Bintang-bintang membuat tubuhnya tergerak untuk mendekati jendela. Ia berusaha dengan kuat menyeret kakinya untuk berjalan menghampiri jendela kamarnya, Ia ingin melihat bintang lebih dekat. Bintang-bintang membuat langit malam selalu terlihat tenang seperti biasanya. Namun untuk kali ini, langit dan bintang-bintang itu membuat sesak didadanya semakin parah. Membuat air matanya pecah dan semakin deras membasahi wajahnya.
Ia sudah benar–benar tidak kuat menahan rasa sesak didadanya. Semua kenangan masa lalunya tak pernah bisa terhapuskan dari ingatannya. Kenangan ia bersama seseorang lelaki yang amat ia kenal dengan baik selalu membuat tetes demi tetes airmatanya begitu deras mengiringi isak tangisnya, ia sangat merindukan lelaki itu. Dengan airmata yang terus mengalir, dengan suara rapuh terucap kata dari dirinya. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Kumohon, kembalilah.....aku merindukanmu, sangat merindukanmu.

1 komentar: