Prolog
Ia terduduk lemas dibangku kamarnya.
Tubuhnya begitu rapuh. Ia hanya ingin berada di ruang kamar seorang diri. Tanpa
gangguan dari siapapun. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan. Lebih tepatnya, ia
tak tahu harus melakukan apa. Ponselnya yang terus berdering tak ia hiraukan.
Sekali lagi, ia benar benar tidak ingin melakukan apapun. Ia merasa sangat
lelah, ia tidak kuat menerima apa yang sebenarnya terjadi. Karena rasanya
sangat sakit. Sakit sekali...
Ia hanya butuh waktu untuk
memperbaiki keadaannya, menyembuhkan luka dihatinya, menghilangkan perih yang
ia rasakan, dan membiarkan tangis membasahi pipinya. Ia membiarkan tetes air
matanya yang terasa hangat itu berlinang. Ia tahu hal ini dapat membuat
keadaannya membaik. Ia hanya tak tahu, entah kapan perih di hatinya dapat
terobati. Entah sampai kapan sedih ini akan menemaninya disetiap hari-harinya.
Matanya tergerak menatap keluar jendela. Ia dapat melihat banyak
bintang yang cahayanya menerangi gelap malam. Bintang-bintangterlihat cantik menghiasi
langit. Bintang-bintang membuat tubuhnya tergerak untuk mendekati jendela. Ia
berusaha dengan kuat menyeret kakinya untuk berjalan menghampiri jendela
kamarnya, Ia ingin melihat bintang lebih dekat. Bintang-bintang membuat langit
malam selalu terlihat tenang seperti biasanya. Namun untuk kali ini, langit dan
bintang-bintang itu membuat sesak didadanya semakin parah. Membuat air matanya
pecah dan semakin deras membasahi wajahnya.
Ia sudah benar–benar tidak kuat menahan rasa sesak didadanya. Semua
kenangan masa lalunya tak pernah bisa terhapuskan dari ingatannya. Kenangan ia
bersama seseorang lelaki yang amat ia kenal dengan baik selalu membuat tetes
demi tetes airmatanya begitu deras mengiringi isak tangisnya, ia sangat
merindukan lelaki itu. Dengan airmata yang terus mengalir, dengan suara rapuh
terucap kata dari dirinya. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Kumohon,
kembalilah.....aku merindukanmu, sangat merindukanmu.
***
Ruang kelas sore ini sudah sangat sepi, namun lampunya masih menyala.
Masih ada seseorang didalam sana. Defira. Atau lebih dikenal dengan panggilan
Fira. Gadis itu masih berada di dalam ruang kelas seorang diri. Dia masih memainkan laptop. Wajah mungilnya
terlihat begitu serius. Jemarinya dengan lincah menekan-nekan keyboard. Ia
sedang mengerjakan tugas sekolah. Ia menghabiskan waktu cukup lama hingga
akhirnya ia dapat menyelesaikan tugasnya.
“Fir! Masih belum selesai ya?”, tiba-tiba seorang lelaki mendatangi
Defira dengan wajah lesunya. Reza. Lelaki itu adalah orang yang selalu setia
menemani Fira. Dia adalah sahabat Fira sejak 3 tahun lalu atau tepatnya kelas 1
smp dulu hingga kelas 1 sma sekarang. Reza adalah lelaki yang selalu terlihat
menyenangkan untuk Fira. Bukan karena ketampanannya, namun karena Reza selalu
ada untuk Fira. Fira memang sangat beruntung, ia selalu dilindungi oleh Reza
dimanapun ia berada.
“Iya zaa, ini udah selesai kok. Maaf yaa lama, lagian tadi kan aku
saranin kamu pulang duluan karena aku bakal lama disini” kata fira sambil sibuk
merapikan peralatannya kedalam tas untuk dibawa pulang.
“Ya nggak bisa gitu Fira! Kamu kan perempuan, aku ga mungkin
ninggalin kamu sendirian Fir. Nanti kalau dijalan ada apa-apa gimana coba?”,
balas Reza dengan penuh perhatian. Meskipun Reza dekat dan disukai banyak wanita,
namun perhatiannya hanya untuk Fira.
Entah mengapa Reza selalu memusatkan perhatiannya pada Fira,
sekalipun ia memiliki banyak teman wanita yang lebih cantik dari Fira. Reza
selalu merasa lebih tenang dan nyaman bila berada didekat Fira. Ia sangat menyukai
senyum manis Fira yang selalu membuatnya tersenyum balik. Reza juga senang
melihat mata Fira saat sedang tertawa.
“Za, Apaan sih... Kamu tuh yaa ga perlu berlebihan gitu, Za” fira
mengeluarkan senyum manisnya.
“Yaudah yaudah pokoknya sekarang kita pulang ya, aku tunggu dimobil”,
ucap Reza sambil menatap Fira lekat lekat dan menunjukan wajah tampannya.
“Iya”, hanya itu yang terucap dari mulut Fira.
***
“Sarah, maafin aku. Gimana kalau sekarang kita mampir nyari tempat
makan dulu sebelum kuantar kamu kerumah?” Sarah hanya terdiam,“Aku akan mentraktirmu.
Okey?”, ucap seorang lelaki berbadan tegak, namanya Feisal. Ia memohon-mohon
sedari tadi kepada Sarah dengan wajah menyesal. Lelaki berusia 17 tahun itu
memiliki postur tubuh berisi, tinggi tubuh yang tidak terlalu jangkung,
kulitnya tidak putih namun tidak hitam, rambutnya dengan style khasnya
membuatnya terlihat begitu keren oleh banyak wanita disekolahnya.
“Terserah kamu saja!”, jawab Sarah ketus. Moodnya sedang tidak baik.
Sarah adalah sahabat Feisal sejak masih kecil, hingga sekarang tepatnya kelas 2
sma. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, tak ada hubungan lebih dari
hubungan persahabatan diantara mereka, namun, mereka merasa saling memiliki.
Teman-teman disekitar mereka selalu mengira ada hubungan lebih diantara mereka.
Namun nyatanya memang mereka hanya bersahabat.
“Yaudah, ayo sekarang ikut aku yuk!” Feisal menuntun sarah untuk
menuju mobilnya dan mencari tempat makan. Sarah hanya mengangguk, ia tak ingin
bicara banyak, wajahnya begitu datar,tak seperti biasanya. Sarah adalah gadis
yang sangat dewasa, sejak kecil dia sudah ditinggal ibunya, sehingga ia sudah
biasa melakukan hal-hal yang seharusnya dikerjakan ibunya saat berusia muda.
Sarah memiliki perawakan berbadan tinggi berisi dengan kulit kuning langsat,
dagu yang agak lancip, berhidung mancung, beralis tebal, rambutnya yang agak
ikal dibagian bawah dan sangat panjang selalu terurai menutup bahunya,
membuatnya terlihat sangat cantik.
Ketika Feisal mengendarai mobilnya untuk keluar dari sekolah, ada
satu mobil lain yang juga sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah, dan ia
sangat kenal dengan mobil itu. Mobil yang dilihatnya adalah mobil Reza, adik
kelasnya yang rumahnya terletak disebelah rumah Feisal. Feisal ingin menyapa
adik kelasnya itu. Ia membawa mobilnya mendekati mobil Reza. Setelah mobil
mereka berada sejajar, Feisal membuka kaca mobilnya dan Reza pun membuka kaca
mobilnya. Mereka hanya saling menyapa dan tersenyum. Lalu melanjutkan
perjalanan masing-masing.
“Laki-laki tadi adik kelas kita kan, Sal? Kamu kenal sama dia?”,
tanya Sarah penasaran, karena Feisal terlihat begitu ramah pada lelaki tadi,
Reza.
“Iya, Reza, namanya. Dia tetanggaku, makanya aku tadi nyapa dia”,
jawab Feisal dengan tenang sambil berhati-hati mengendarai mobilnya.
Sarah hanya mengangguk puas dengan penjelas yang diucapkan Feisal.
Sementara Feisal sendiri masih memikirkan wanita yang terlihat berada didalam
mobil Reza, wanita itu tak lain adalah Fira. Feisal sangat penasaran mengapa
wanita itu bisa berada di dalam mobil Reza. Apa Reza mengenalnya dengan baik?.
Tanya Feisal dalam hati.
Sejak masa orientasi siswa Feisal sering memperhatikan Fira. Karena
Feisal menyukai wajah mungil Fira yang selalu tampak ceria, memiliki hidung
mungil, senyum manis dengan tahi lalat disamping bibir mungilnya, bola mata Fira yang bening dan berwarna coklat,
serta rambut Fira yang sedikit bergelombang membuat Feisal memusatkan
perhatiannya pada Fira. Fira memiliki tubuh yang sedikit berisi, tidak tinggi
namun tidak pendek, dan kulitnya yang putih cerah. Hal itu membuat Feisal
tertarik mengenal Fira, namun Feisal tahu Sarah tidak akan menyukai hal
tersebut. Jadi hingga kini Feisal menyembunyikan semua itu dalam hati, dia tak
ingin Sarah mengetahui sedikitpun.
Rasa penasaran benar-benar bersarang didiri Feisal. Ia ingin segera
melontarkan banyak tanya pada Reza malam ini setelah selesai mengajak Sarah
makan dan mengantar Sarah pulang. Apa Reza memiliki hubungan khusus dengan
wanita tadi?. Pertanyaan itu terulang berkali-kali dalam hati Feisal selama
menhabiskan waktu bersama Sarah sore itu.
Sementara itu Reza dan Fira mengahbiskan waktu bersama hingga
malam. Mereka sering melakukan hal ini sejak awal persahabatan mereka dimulai.
Mereka memiliki kebiasaan untuk menatap langit malam bersama sambil berlomba
menghitung jumlah bintang yang menerangi langit malam. Begitupula malam ini,
Fira menduduki sebuah alas diatas rumput dan Reza membaringkan tubuhnya diatas
rumput disisi Fira.
***
Pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS siang ini telah usai. Hasilnya
sudah terpampang di mading atau majalah dinding sekolah. Para murid kelas satu
berdatangan mendekati mading, begitu pula Fira dan Reza. Mereka melihat nama
Feisal tertulis disana sebagai ketua OSIS dan Sarah sebagai wakil ketua. Semua
murid terlihat senang melihat hasilnya, mereka sangat menyukai Feisal dan Sarah
yang selalu terlihat bersama kini menjadi ketua dan wakil ketua OSIS.
“Mereka benar-benar cocok yaa, sama sama pintar, kini sama sama
menjadi ketua dan wakil ketua OSIS”, ucap saah satu murid disana.
Feisal dan Sarah memang murid berprestasi di sekolahnya itu.
Ranking mereka selalu berada diatas murid lainnya. Mereka dikenal oleh
guru-guru karena sering mengharumkan nama sekolah. Bahkan semua murid tahu dan
mengenal mereka berdua dengan baik. Mereka juga sering belajar bersama, mereka
memang sangat cocok, namun kenyataannya, mereka memang hanya sebatas
bersahabat. Tidak lebih dari itu. Jadi tak salah jika mereka saling jatuh hati
kepada wanita atau lelaki lain. Mungkin hal itu yang dirasakan oleh Feisal.
Namun bagi Sarah, lelaki yang berarti untuknya hanya Feisal. Meskipun Sarah
sering marah pada Feisal, sebenarnya Feisal itu sangat berarti untuknya.
“Wah, Kak Sarah dan Kak Feisal hebat yaa, Za!” ucap Fira dengan
wajah sumringahnya.
“Iya. Oiya Fir, Kak Feisal itu tetanggaku. Dia pernah datang ke
rumahku malam-malam”, jawab Reza dengan wajah yang terlihat membingungkan.
“Ohh. Lalu apa urusannya?”, tanya Fira heran sambil membenarkan
posisi poninya yang sering jatuh menutupi matanya.
“Dia menanyakan banyak hal tentang kita, terlebih lagi tentang
kamu”, jelas Reza terdengar belum cukup memuaskan Fira.
“Untuk apa?”, tanya Fira dengan mengangkat kedua alisnya.
“Entah. Aku rasa, dia menyukaimu”, wajah tampan Reza terlihat
muram.
Fira masih tidak mengerti apa maksud ucapan sahabatnya itu. Wajah
tampan Reza, dengan hidung mancung, matanya yang bulat dan agak besar dengan
alis tebal, bibir tipisnya, dengan rambutnya yang selalu agak berantakan yang
selalu terlihat menyenangkan bagi Fira, kini terlihat tak menyenangkan. Fira
benar benar penasaran melihat keadaan sahabatnya yang tidak seperti biasanya
itu.
“Hmm Fir, udah lupain aja kata-kataku tadi. Oiya aku dapat kabar
dari Kiki, katanya nanti sepulang sekolah, anak OSIS diminta rapat di aula
untuk pemilihan sekertaris dan bendahara serta sekbid lainnya”, Reza berusaha
terlihat ceria kembali.
“Ohh. Hmm, iya Za! Thanks ya infonya. Yaudah kalau gitu kamu pulang
duluan aja yaa, aku takut rapatnya lama, jadi gapapa kok aku pulang sendiri aja
yaa”, balas Fira sambil menyarankan Reza untuk Pulang lebih dahulu. Fira sangat
mengetahui kebiasaan sahabatnya ini yang selalu setia menunggunya dan
menemaninya setiap hari.
“Ih apasih Fira! Aku kan sudah sering bilang, aku gak akan ninggalin
kamu sendirian”, balas Reza keras. Dalam hatinya, ia sangat ingin Fira tahu
bahwa ia sangat menyayangi Fira dan ia selalu ada untuknya. Reza memang tak
pernah mengatakan pada Fira bahwa ia menyayangi Fira, ia hanya membiarkan
hatinya berkata pada hati Fira. Ia tahu bila ia terus begini, Fira tak akan
tahu tentang perasaannya, perasaan sayangnya pada Fira lebih dari seorang
sahabat. Namun Reza tahu, Fira hanya menaganggapnya seorang sahabat.
“Aku cuma takut kamu terlalu lamamenunggu, Reza”, jawab Fira lembut
dengan senyum manisnya. Fira sangat senang dengan perhatian sahabatnya ini.
Meskipun dia harus sering menahan rasa cemburunya jika sahabatnya sudah
dihampiri teman teman wanitanya, tetapi Fira selalu mendapatkan perhatian lebih
dari Reza.
“Gapapa. Aku kan nunggu kamu sambil main game hahaha” Jawab Reza
sambil memberantaki rambut Fira yang memang sudah berantakan. Fira lebih senang
membiarkan rambutnya agak berantakan daripada tersisir rapi. Mereka melanjutkan
langkah mereka menuju kelas dan melanjutkan pelajaran hari itu.
***
Rapat OSIS sore ini selesai semua pengurus telah terpilih. Fira
segera keluar ruangan ketika teringat Reza menunggunya. Fira khawatir dengan
keadaan Reza karena rapatnya lumayan lama. Fira mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi
Reza dan ingin segera menelfon Reza sebelum tiba-tiba terdengar suara seorang
lelaki dari belakang.
“Defira!”, suaranya terdengar semakin dekat, membuat Fira
membelokan tubuhkan ke belakang.
“Kak Feisal? Ada apa?”, tanya Fira dengan senyumnya berusa sopan
dihadapan kakak kelasnya.
“Hmm ga ada apa-apa. Selamat yaa kamu jadi sekertasris”, balas
Feisal
“Eh? Iya makasih yaa, Kak! Selamat juga ya, Kak Feisal jadi ketua
OSIS! Oiya kak Sarah kok gak keliahatan ya pas rapat tadi? Biasanya bareng sama
kak Feisal?”, tanya Fira sambil menahan perasaan senang. Fira sebenarnya sangat
mengagumi Feisal, Fira menyukai sosok Feisal yang dikenal sangat berprestasi
dan ramah, Fira juga menyukai postur tubuh kakak kelasnya ini yang terlihat
rapi setiap berpakaian, namun tidak terlihat culun, justru terlihat sangat
kere.
“Haha iya makasih ya, Fir! Fir, panggil aku Isal aja biar gak
ribet. Oiya Sarah lagi ada urusan keluarga jadi dia gak bisa ikut rapat” jelas
Feisal, “Oiya kamu pulang sama siapa? Bareng aku aja yuk, nanti aku antar
sampai rumah kok, tentunya”, ajak Feisal tanpa basa basi dengan wajah
sumringahnya.
“Ha? Oke. Hmm makasih kak, tapi tadi aku udah janjian pulang bareng
Reza, jadi kayaknya lain waktu aja yaa kak” jawab Fira dengan perasaan senang.
Walaupun dia menyukai sosok Feisal, namun sahabatnya selalu lebih dia utamakan.
Tiba-tiba Reza datang menghampiri Fira dan Feisal. Kedatangannya
cukup mengagetkan Fira dan Feisal yang sedang bercakap-cakapan.
“Eh Reza! Kamu dari mana? Maaf yaa kamu pasti udah bosen yaa nunggu
aku daritadi, lagian kan aku udah bilang ....”, sebelum Fira sempat
menyelesaikan ucapannya, Reza segera menyambar.
“Fira berhenti! Iya iya kamu tahu sendiri kan aku pasti bosen kalau
kelamaan gini tapi aku gak akan bosen mengulangi hal ini sampai kapanpun” jelas
Reza tiba-tiba membuat keadaan menjadi sunyi. Mata mereka bertiga saling tatap
menatap bergantian.
“Kalian lucu banget ya! Yaudah gue pulang duluan ya Za! Jaga Fira
ya”,ucap Feisal singkat dan segera memasuki mobilnya dan melaju pulang.
Fira benar-benar tidak mengerti. “Za, Kak Feisal kok tiba-tiba aneh
gitu ya pas kamu datang? Oiya aku punya info buat kamu. Aku ditunjuk buat jadi
sekertaris OSIS, kak Feisal yang menyarankan agar aku menjadi sekertaris. Kak
Feisal benar benar baik ya seperti yang dibicarakan banyak orang”, Fira
menceritakan kebahagiaannya itu sambil berjalan menuju mobil Reza dengan wajah
cerianya. Fira memang senang menceritakan segala hal pada Reza. Reza adalah
pendengar yang baik bagi Fira. Reza selalu mendengar semua cerita Fira dengan
antusias. Reza pun sangat senang mendengar cerita Fira. Lebih tepatnya
memerhatkan gerak gerak dan raut wajah Fira ketika bercerita.
Namun tak terdengar jawab dari Reza. Reza hanya menunduk dan
mngendarai mobil mengantar Fira pulang ke rumah.
***
Hari-hari terus
berjalan. Tidak ada yang berubah dari diri seorang Reza. Dia tetap menunggu
Fira sepulang sekolah. Menghabiskan waktunya menunggu Fira bukan hal buruk
baginya meski akhir-akhir ini penantiannya terasa sia-sia. Akhir-akhir ini Fira
sangat sibuk mengerjakan tugasnya sebagai sekertaris OSIS. Fira menjadi lebih
sering menghabiskan waktunya bersama Feisal. Sebenarnya Reza sangat takut
melihat keadaan ini, selain takut akan kondisi kesehatan Fira yang melemah
akibat kelelahan, Reza juga takut kehilangan Fira.
Hingga suatu hari
di sore hari Reza menghampiri Fira sepulang sekolah. “Fira, Fir!”, ucap Reza
dengan hangat, dengan nada penuh kerinduan. “Iya? Ada apa, Za?” jawab Fira
tanpa sedikitpun melihat Reza.
“Hmm kamu masih
sibuk ya, Fir? Hari ini aku mau ngajak kamu makan. Aku mau jujur Fir sama kamu.
Aku kangen banget sama semua kebiasaan kita dulu. Akhir-akhir ini kamu sibuk
banget sama tugas OSIS-mu.” Ucap Reza serius sambil duduk dihadapan Fira.
“Reza? Kamu
kenapa? Kamu sakit ya? Kok kamu ngomong gitu sih?”, kini Fira menatap Reza
lekat-lekat. Raut wajah Reza terlihat sangat murung. Tapi sayangnya Fira
benar-benar sedang sibuk.
“Hai, Fir!
Progresnya sudah sampaimana? Proposal harus sudah selesai ya minggu ini”,
tiba-tiba seorang lelaki dewasa itu datang mendekati Fira, tentunya lelaki itu
adalah Feisal. Dia bertanya dengan ramah pada Fira, hal itu memancing kecemburuan
Reza.
“Ohh. Ini sudah
hampir selesai kak! Hmm tapi aku belum tahu minggu ini sudah dapat selesai atau
belum dan ....” Jawab Fira bersemangat dengan wajah yang sumringah kepada
Feisal. Kini mereka bercakap-cakap berdua seolah Reza tidak ada disisi mereka.
Sebaiknya aku
pergi. Bisik Reza dalam hati. Reza pun dengan sangat keras mengeluarkan
tenaganya menyeret kakinya untuk menjauh dari tempat itu.
Reza tidak
mengerti apa yang terjadi diantara Fira dan Feisal. Fira dan Feisal selalu
terlihat sangat asik jika sedang bercakap-cakap berdua. Reza bertanya-tanya
dalam hatinya sambil memperhatikan mereka dari kejauhan, bukankah Feisal
memiliki hubungan dengan Sarah, lalu apa maksud dia mendekati Fira dan
mengambil alih perhatian Fira kepadanya? Aku tidak akan membiarkan Feisal
merebut Fira.
***
“Sarah! Apakah kau punya waktu untukku? Sebentar saja..” Ucap Reza
terburu-buru.
“Ada perlu apa? Aku tak punya banyak waktu”, jawab Sarah ketus.
Seperti biasanya, Sarah selalu menaggapi orang yang begitu ia kenal dengan
serius. Sebenarnya Sarah adalah gadis yang cantik dan ramah, apalagi pada
orang-orang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya apa ada hubungan spesial antara kau dengan Feisal? Hmm
sebelumnya maaf jika aku lancang’, tanya Reza terburu-buru tanpa basa-basi.
Sarah terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Sarah tak
memedulikannya. “Pertanyaan yang tidak penting. Waktuku terlalu berharga jika
kuhabiskan untuk membahas hal ini” Jawabnya datar sambil terus melangkahkan
kakinya.
“Tunggu! Sarah, aku tahu. Kau mencintai Feisal. Kau sama denganku.
Aku mencintai Fira. Namun semenjak Fira mengenal Feisal, aku kehilangan waktu
bersama Fira. Aku tahu, pasti kau juga merasakan hal yang sama. Aku takut
kehilangan Fira, kau juga pasti takut kehilangan Feisal, kan?”, kata-kata Reza
memaksa Sarah mengakui bahwa hal itu benar.
“Kau sangat lancang. Aku tak pernah bertemu orang sepertimu
sebelumnya.” Sarah terdiam sejenak,“Baiklah, aku akui kau benar. Ayo duduk dan bicarakan ini ditaman sekolah”
“Ha?” Reza tak percaya Sarah bisa diluluhkan dengan mudah olehnya.
Mereka berdua berjalan menuju taman sekolah. Mereka duduk dan
saling bercerita.
“Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat
berarti? Aku sangat merasakannya. Aku dan Feisal sudah bersahabat sejak kecil.
Kami selalu mengahabiskan waktu bersama, entah itu untuk belajar maupun
bermain. Tak ada hari tanpa kehadirannya. Hari-hariku begitu berwarna selama ia
menemaniku, hingga ia membuatku jatuh hati padanya. Namun sekarang, semenjak ia
mengenal gadis itu, ia tak pernah lagi memiliki waktu untukku. Namun hingga
kini aku masih menunggunya, karena aku masih sangat mengingat janjinya, dia
bilang dia akan selalu bersamaku sampai kapanpun karena dia menyayangiku.
Mungkin aku ambigu dengan janjinya itu, mungkin sebenarnya dia hanya
mengganggapku sebagai sahabatnya karena buktinya kini dia tidak bersamaku. Aku
benci kepada gadis itu, dia merebut Feisal dariku”, Sarah mengeluarkan seluruh
isi hatinya, suaranya terdengar sangat lemah, Reza paham Sarah sangat merasa
kehilangan, seperti apa yang ia rasakan. Kini air mata yang sedaritadi tertahan
dimata Sarah telah jatuh membasahi wajah cantiknya.
“Sarah! Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu menangis.
Aku paham perasaanmu, Aku juga mencintai Defira. Kami sudah lama bersahabat,
Aku selalu menaruh perhatianku penuh kepadanya, namun sekarang semenjak Fira
mengenal Feisal, aku sangat merasa kehilangan Fira.” Jawab Reza sambil
menunduk, Reza tak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. “Ini. Hapus air
matamu”, Reza memberika saputangannya kepada Sarah. Namun Sarah terlihat sangat
sedih hingga Reza melingkarkan tangannya di bahu Sarah.
Namun ternyata Fira melihat kejadian itu dari kejauhan. Fira tidak
mendengar percakapan antara Reza dan Sarah. Namun Fira tak mengerti mengapa
rasanya sakit melihat Reza bersama wanita lain. Fira menyadarkan dirinya untuk
sadar bahwa Reza adalah sahabatnya dan tak seharusnya ia cemburu.
“Za, sebenarnya aku gak pernah paham bagaimana perasaanku
terhadap kamu. Aku menyayangimu sebagai
sahabatku tapi aku ga mau kamu dimiliki orang lain, aku ingin kamu selalu
didekatku, bersamaku. Bahkan sekarang aku juga ga ngerti kenapa rasanya sakit
melihatmu dekat dengan Sarah” ucap Fira dalam hati dan tak sadar air matanya
mulai berlinang.
***
“Kak, makasih yaa”, ucap Fira dengan sopan dan menundukan kepala. Fira
menghabiskan waktunya bersama Feisal. Mereka berjalan jalan di taman kota
sambil mencicipi berbagai macam makanan yang ada disana. Akhir-akhir ini mereka
sering menghabiskan waktu bersama. Awalnya mereka hanya sekedar ingin
mengerjakan tugas-tugas OSIS, namun lama-kelamaan Fira dan Feisal merasakan
suatu hal yang sama. Nyaman....
“Iya sama sama, Fir” jawab Feisal sambil menatap Fira dengan
senyumnya. Fira benar benar dibuat jatuh hati pada Feisal saat itu. Mereka
menghabiskan waktu dengan segala keasikan serta canda dan tawa yang tiada
henti.
Namun dibalik senyum bahagia Fira hari itu terdapat sebuah tanya di
hatinya yang selama ini tak pernah terjawab. Fira merasa bahwa hari itu adalah
waktu yang tepat untuk mendapat jawaban dari kebingungan hatinya selama ini.
“Kak Feisal, aku ingin bertanya, sebenarnya pertanyaan ini tidak
harus dijawab jika kakak tidak mau menjawabnya”, ucap Fira dengan lembut.
“Mau nanya apa, Fir? Pasti aku jawab kok” jawab Feisal dengan
senyumnya yang masih mengembang sedaritadi.
“Sebelumnya maaf jika pertanyaanku ini terlalu lancang, aku hanya
ingin tahu sebenarnya ada hubungan apa antara kakak dengan kak Sarah?”, dengan
penuh keberanian karena keingintahuannya, Fira melontarkan pertanyaan itu.
Pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya.
“Aku? Aku... hmm aku hanya bersahabat dengan Sarah” jawab Feisal
terkejut. Kini senyumnya hilang, hanya tersisa raut wajah yang terlihat agak
panik.
“Kakak yakin? Hmm maksudku apa kakak yakin tidak ada hubungan lebih
diantara kalian? Atau mungkin perasaan yang
lebih dari rasa sayang seorang sahabat? Atau maksudku apa kakak
mecintainya? Hmm atau kurasa sebaiknya kakak lupakan saja pertanyaanku” ucap
Fira dengan cepat. Kini mereka terlihat canggung. Pertanyaan yang Fira
lontarkan membuat Feisal terdiam dan merubah suasana.
Fira benar-benar menyesal atas ucapannya. Ia takut kata-katanya
terlalu lancang dan membuat Feisal marah. Kini Fira hanya menundukkan kepala
dengan debar jantung yang begitu cepat dan kencang, saat itu ia hanya berharap
semoga detak jantungnya tidak terdengar oleh Feisal.
“Fir, apa kamu benar-benar ingin tau jawabanku?”, tanya Feisal
memecah sunyi.
Fira hanya terdiam. Bahkan ia menundukan kepalanya. Ia tidak
memilikikeberanian untuk menatap kakak kelasnya itu. Melihat sikap Fira seperti
itu membuat Feisal memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi.
“Sebenarnya aku dan Sarah memang hanya bersahabat, kami bersahabat
sejak kecil. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Seiring berjalannya waktu,
kami...kami merasa saling memiliki. Namun jujur hingga saat ini aku belum paham
dengan perasaanku. Aku sempat mencintainya, namun rasa ini memudar setelah
Sarah berubah. Awalnya dia adalah gadis yang selalu ceria, dia membuat
hari-hariku penuh warna. Tapi sekarang dia lebih sering menjauhiku, dia tidak
lagi terlihat ceria, dia sering marah padaku. Hal itu membuatku lelah karena
aku harus berkali-kali meminta maaf padanya tanpa kuketahui kesalahanku, namun
aku tak pernah menyerah untuk membahagiakannya dan sebenarnya aku melakukan itu
semua karena aku takut kehilangan Sarah.”, jelas Feisal panjang lebar “Dan
sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu. Kamu membuatku lebih bersemangat
menjalani semuanya karena keceriaan yang kamu miliki, Fir. Keceriaanmu
mengingatkanku pada Sarah. Aku melihat ada kemiripan diantara kalian, aku
melihat Sarah setiap kali aku melihatmu Fir. Kebiasaan yang Sarah miliki ada
pada dirimu, Fir!”.
“Apa? Aku tidak mengerti.”, tanya Fira dengan suara yang terdengar
rapuh. Hatinya terasa sakit. Apa maksud semua ini?, tanyanya dalam hati.
Kak Feisal. Dia tidak sadar dia telah membuatku jatuh hati padanya, dan kini
dia benar-benar membuatku ingin membencinya setelah ku tau dia hanya
menjadikanku sebagai pelampiasan rasa kehilangannya, lanjut Fira dalam
hati.
“Maaf, Fir. Aku ga ada rmaksud menyakiti perasaanmu. Aku memang
menemukan keceriaan Sarah yang aku rindukan ada pada dirimu. Namun itu bukan
alasanku mengapa aku mendekatimu. Aku benar-benar menyayangimu Fir! Bukan
karena kemiripanmu dengan Sarah, bukan karena aku melihat sifat Sarah yang ada
pada dirimu. Tapi karena aku menyayangimu.... aku menyayangimu sebagai adikku
sendiri”, jelas Feisal panjang lebar, ia benar-benar takut salah kata, ia
benar-benar tak ingin Fira salah paham.
“Jadi selama ini kakak menyayangiku sebagai adik kakak?”, Airmata
Fira mulai menetes membasahi pipinya. Rasanya sakit mendengar semua penjelasan
Feisal, sakitt sekali...
“Iya aku sudah mengaggapmu sebagai adikku sendiri, Fir. Aku tidak
bermaksud membuatmu jatuh hati padaku dan merasakan hal lebih dari rasa sayang
seorang saudara, kumohon jangan menangis” Feisal paham dengan apa yang
dirasakan Fira, dengan segala rasa bersalahnya, ia memeluk Fira. Ia meletakan
kepala Fira didadanya dan memeluk Fira. Ia tau Fira membutuhkan tempat
bersandar.
Isak tangis Fira semakin menjadi-jadi setelah ia merasa sebuah
kehangatan dari seorang lelaki yang kini
memeluknya. Pelukan Feisal membuat Fira merasakan kenyamanan sehingga tangan
mungil Fira kini melingkar ditubuh Feisal. Jangan lepaskan pelukanmu,
kumohon, tetaplah seperti ini, sebentar saja...Ucap Fira dalam hatinya
sambil mengeratkan peluknya.
Disisi lain Feisal merasa sangat bersalah. Ia merasa telah
menyakini hati seorrang gadis yang ia sayangi sebagai adik dan ternyata
menyayanginya lebih dari seorang kakak. Kini ia merasakan tangan mungil Fira
melingkar ditubuhnya dengan lembut. Pelukan Fira semakin lama semakin erat,
Feisal pun mengeratkan pelukkannya ditubuh Fira untuk membuat perasaan Fira
membaik dan membuat Fira nyaman.
***
Feisal
berniat untuk mengajak Sarah makan sepulang sekolah dan menghabiskan waktu
bersama seperti dulu. Feisal sadar bahwa ia sangat merindukan hal-hal yang dulu
sering ia lakukan bersama Sarah, lebih tepatnya ia merindukan Sarah, gadis yang
sebenarnya ia cintai.
“Sarah,
hari ini ga ada kegiatan lagi, kan? Makan yuk!” Sapa Feisal dengan wajah
cerianya.
“Aku
tidak bisa”, jawab Sarah ketus. Sebenarnya Sarah sangat sulit untuk menolak
ajakan lelaki yang ia cintai itu namun ia harus melakukannya agar bisa
melupakan Feisal. Ia melangkahkan kakinya membuat jaraknya dengan Feisal semakin
jauh.
“Sarah
tunggu! Sarah aku tau kamu marah, aku tau aku selalu salah. Tapi sekarang aku
mohon, jangan pergi. Aku cuma mau kamu tau, aku sangat merindukanmu”, ucap
Feisal dengan tegas.
Feisal
hanya terdiam melihat Sarah dari belakang. Ia melihat Sarah menghentikan
langkah kakinya setelah mendengar ucapannya.
“I
am tired of you proving me wrong everytime. I am tired of holding on for
nothing. But I won’t give up. Because I love you”, lanjut Feisal dengan suara
yang lebih keras, ia sudah tidak kuat menahan perasaan yang selama ini ia
pendam.
“She
is better than me” ucap Sarah dengan suara yang terdengar rapuh, Ia meneteskan
air matanya. Kata-kata Feisal membuatnya merasa bersalah atas sikapnya selama
ini.
“She
is better than you, but you are the best for me, my heart say that” lanjut
Feisal “I just love you”, tambah Feisal menegaskan ucapannya.
Tubuh
sarah kaku, ia terdiam mendengar semua ucapan Feisal. Saat itu Sarah hanya bisa
ia mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, airmata tak mampu lagi ditahannya.
Ia sangat menyesal dan merasa bersalah. Ia membiarkan airmatanya yang hangat
semakin deras membasahi pipinya.
Feisal
menyadari bahwa Sarah menangis. Ia melangkahkan kakinya mendekati Sarah. Kini
ia berada tepat dibelakang Sarah. Sarah menyadari keberadaan Feisal didekatnya
dan dia berkata “Maafkan aku”. Feisal pun menjawabnya “Gapapa Sar, yang penting
kamu udah tau, aku sayang kamu”. Sarah merasa tidak kuat, ia membalikkan
badannya dan melingkarkan tangannya dengan erat di tubuh Feisal. “Aku
mencintaimu” ucap Sarah sambil menumpahkan tangis dalam peluknya. Feisa pun
memeluk Sarah dengan sangat erat, “Aku mengerti” balas Feisal dengan singkat.
Feisal memeluk Sarah dengan erat sambil mengelus rambut Sarah dengan lembut.
Feisal
terus menenangkan Sarah, mencoba menghentikan tangis gadis yang ia cintai itu.
Namun ia terkejut saat melihat seorang perempuan di kejauhan, perempuan itu
terdiam sejenak dan membalikan badan lalu berlari menjauh dari tempatnya.
Feisal tau perempuan yang dia lihat adalah Fira. Feisal ingin sekali mengejar
dan meminta maaf namun ia lebih memilih diam bersama gadis yang ia cintai.
Ternya
Reza pun melaihat kejadian itu. Reza tahu Fira sangat sedih melihat kejadian
tersebut dan itu membuat Reza ingin menghajar Feisal namun ia menahan semua perasaan
kesalnya dan segera mengejar Fira.
“Fir,
tunggu”, teriak Reza sambil mengejar Fira dan berusaha mendekati Fira. Namun
Fira tak menghiraukan sahabatnya itu, ia terus melangkahkan kakinya.
“Fir
berhenti, Fir aku paham perasaan kamu” ucap Reza sambil memegang tangan Fira.
Reza berhasil mengejar dan mendekati Fira. “Fira aku paham, Fir”, lanjut Reza
mencoba menenangkan Fira.
“Reza
aku bodoh, aku sangat menyesal, Za”, ucap Fira dengan airmata yang tetes demi
tetesnya membasahi pipinya. Fira segera membalikan badan ke arah Reza dan
memeluk Reza dengan sangat erat dan membuat Rezaterkejut dan segera memeluk
Fira dengan lembut. Fira mengeluarkan semua kesedihannya dengan tangis dalam
pelukan Reza hingga airmatanya membasahi seragam yang dikenai Reza.
“Kamu
nggak bodoh Fir, kamu nggak bodoh”, ucap Reza menenangkan Fira sambil memeluk
Fira dengan erat dan mengelus rambut Fira. Reza memang selalu rela menjadi
apapun untuk Fira, Reza rela menjadi tempat Fira bersandar saat Fira sedang
sedih seperti saat ini walaupun selama ini Fira selalu menyakiti hatinya setiap
melihat Fira dekat dengan Feisal.
“Za,
harusnya aku tau kak Feisal itu sayang sama kak Sarah, harusnya aku sadar kak
Feisal gamungkin memiliki rasa sayang buat aku lebih dari rasa sayang terhadap
seorang adik, harusnya aku.....”, sebelum Fira sempat menyelesaikan
kata-katanya Reza melepaskan pelukannya dan memegang wajah Fira sambil berkata
“Udah Fir, udah cukup. Jangan salahin diri kamu sendiri, ini bukan salah kamu”,
Reza menatap mata Fira lekat-lekat sambil memegang wajah Fira dengan lembut
hingga mereka bertatapan dan memberikan senyumnya pada Fira. Hal ini membuat
Fira merasa bersalah karena selama ini sering melupakan Reza yang selalu ada
untuknnya. Fira juga baru sadar bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi Reza,
menyayangi Reza lebih dari seorang sahabat. Fira sadar bahwa segala
kecemburuannya setiap melihat Reza dekat dengan perempuan lain mengartikan
bahwa ia menyukai Reza, ia menyayangi Reza.
“Reza
aku sayang kamu”, ucap Fira secara tibatiba sambil menatap Reza.
“Iya
aku juga sayang kamu kok, Fir”, balas Reza sambil membuka tangannya membiarkan
Fira memeluknya hingga akhirnya Fira memeluknya lagi dan Reza pun memeluk Fira
dengan penuh rasa sayang.
Andai
aja kamu tau Fir, rasa sayang yang aku miliki buat kamu lebih dari rasa sayang
yang kamu miliki buat aku, aku tahu kamu menyayangiku namun hanya sebatas rasa
sayang seorang sahabat, dan rasa sayang yang kamu miliki gak akan pernah lebih
dari itu. Ucap Reza dalam hati sambil tetap
memeluk Fira. Tapi aku bakal tetap setia nunggu kamu Fir sampai kamu
menyayangiku lebih dari seorang sahabat, meskipun itu mustahil. Dan saat ini
kamu benar-benar membuatku merasa nyaman dalam pelukmu, aku tak akan melepaskan
pelukanku Fir, aku ingin tetap begini, aku gamau kamu pergi. Lanjut Reza
dalam hatinya.
“Fir
jangan sedih lagi yaa, aku bakal selalu ada buata kamu, aku bakal selalu
nemenin kamu, aku bakal selalu jadi....jadi sahabatmu, iya sahabatmu”ucap Reza
mencoba menghibur Fira. “Oiya besok aku mau ngajak kamu mengunjungi suatu
tempat, aku punya kejutan buat kamu” lanjut Reza dengan wajah sumringah.
“Serius?
Wah, kejutan apa?” kini wajah Fira terlihat lebih ceria, “Oiya makasih yaa, Za
kamu sahabat terbaikku tapi sebenarnya aku....hmm ah sudahlah lupakan saja”
lanjut Fira dengan senyum manisnya yang kini mulai terlihat. Sebenarnya saat
itu Fira ingin mengatakan bahwa ia menyayangi Reza lebih dari rasa sayang
seorang sahabat. Ia ingin mengatakan bahwa sebenarnya yang benar-benar
membuatnya jatuh hati adalah Reza, namun Fira merasa saat itu bukan waktu yang
tepat untuk mengungkapkan perasaannya, dan sebenarnya alasan lain yang membuat
Fira tidak mengungkapkan perasaannya adalah perkataan Reza, saat Reza
mengatakan bahwa Reza akan selalu menjadi sahabatnya, saat itulah Fira dibuat
ragu, hal itu membuat Fira berfikir bahwa Reza hanya menganggapnya sebagai
seorang sahabat, menyayanginya sebagai sahabat yang baik, tak lebih...
“Iyaa
lihat saja besok! Pokoknya besok pagi kamu datang ke taman kota, aku bakal ada
disana sebelum kamu datang” jawab Reza dengan senyum khasnya. “Oiya Fir, tadi
kamu mau bilang apa? Kok langsung minta aku lupain kata-katamu sih?” tanya Reza
dengan raut wajah penuh tanya. “Hmm gapapa, gak bilang apa-apa kok” jawab Fira
mencoba terlihat tidak menyembunyikan sesuatu.
Sore
itu mereka menghabiskan waktu bersama. Sayangnya mereka tidak saling mengetahui
perasaan mereka satu sama lain.
***
Rabu
pagi di taman kota Reza telah duduk di sebuah bangku untuk menunggu Fira. Tak
lama kemudian terlihat sosok perempuan mendekat dari kejauhan dan tentunya
perempuan itu adalah Fira. Reza melambaikan tangan pada Fira dan Fira
membalasnya dengan senyuman manis sambil terus mendekati Reza dan duduk disisi
Reza. Mereka bercakap-cakap dengan penuh canda tawa. Mereka membeli semua
jajanan yang ada disana. Fira berniat mengungkapkan perasaannya kepada Reza
hari itu namun Fira terus menahan. Begitupula Reza, ia berniat untuk
mengungkapkan perasaannya hari itu juga. Hingga akhirnya Reza memulai
pembicaraan.
“Fir,
kamu inget kan aku bilang aku punya kejutan buat kamu? Aku mau ngasih kejutan
itu sekarang. Tunggu ya”, Reza baru saja ingin mengambil suatu benda buatannya
untuk Fira sebelum ia menerima sebuah panggilan di ponselnya.
Reza
mengangkat ponselnya dan....”Halo, apakah anda Reza? Putra dari Ibu
Indira?”,ucap seorang lelaki dari ujung ponsel.
“Iya
benar, ada apa?”, jawab Reza agak panik.
“Ibu
Indira mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya sedang kritis di rumah
sakit Edo Hospital, kami harap anda segera datang karena Ibu Indira sempat
menyebut-nyebut nama anda”, ucapan lelaki itu membuat seluruh tubuh Reza
melemas dan rapuh.
Fira
pun panik melihat raut wajah Reza, “Ada apa, Za?”. Tanya Fira panik. Namun Reza
tidak sempat menjawab pertanyaan Fira. Ia segera mengendarai mobilnya menuju
rumah sakit untuk menemui wanita yang paling ia sayangi yang kini berada dalam
kondisi kritis, ibunya. “Reza kamu mau kemana? Reza kita lagi main kok kamu
tega sih?” Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Reza saat ia hendak pergi
dan ia meninggalkan Fira begitu saja. Hal itu membuat Fira kecewa dan bersedih.
Kini
Fira berdiam seorang diri di taman kota. Air matanya mulai bertetesan, ia
sangat sedih karena Reza meninggalkannya begitu saja. Ia tidak tahu apa yang
terjadi, yang ia tahu saat itu hatinya benar-benar terluka. “Reza aku
mencintaimu” ucap Fira dengan rapuh saat Reza telah pergi meninggalkannya. Fira
tau Reza tidak akan mendengarnya, namun hanya itu yang bisa ia lakukan.
Fira
tetap berdiam diri di taman itu hingga langit gelap. Namun tiba-tiba sebuah
panggilan di ponselnya mengejutkannya. Ia menerima panggilan dari kakaknya.
“Fir
kamu dimana?” tanya Andre.
“Aku
di taman kak, ada apa?” jawab Fira dengan suara yang rapuh.
“Reza
kecelakaan Fir, kamu tenang ya, kakak akan segera menjemputmu”, Fira mendengar
suara kakaknya dengan jelas namun ia tak mempercayai apa yang diucapkan
kakaknya. Ia berharap pendengarannya salah. Namun tubuhnya sudah melemas,
tubuhnya terjatuh.
***
Fira
membuka matanya. Ia kini berada di dalam ruang kamarnya. Kepalanya masih terasa
sakit, tubuhnya masih terasa lemas. Tiba-tiba tetes demi tetes air matanya
membasahi wajahnya. Hatinya terasa sangat sakit. Ia teringat kabar terakhir
Reza yang ia dapat dari kakaknya. Ia terduduk dan menggelengkan kepalanya masih
tak mempercayai apa yang diberitakan kakaknya.
“Fir,
udah enakan?”, tanya Andre saat memasuki kamar Fira.
“Iya,
kak. Kak, ceritain ke aku sekarang juga kalau kakak bohong! Pasti kakak cuma
bercanda, kan? Reza ga kecelakaan, kan?”, tanya Fira dengan panik sambil
memegang erat lengan Andre yang duduk disebelahnya.
“Maaf
Fir, aku gakbisa bohong, Reza kecelakaan. Sekarang kondisinya masih kritis,
tadinya kaka mau jemput kamu untuk ke rumah sakit, tapi bahkan kamu sudah
pingsan di taman, jadi kakak bawa kamu pulang. Hmm...Fira sekarang kamu istirahat
aja ya”, jawab Andre dengan pelan. Andre tahu adiknya sangat menghawatirkan
Reza.
Mendengar
jawaban kakaknya, Fira hanya dapat terdiam merasa semakin lemas, semakin lemah.
“Antar
Fira ke rumah sakit, Kak! Sekarang” Ucap Fira dengan suara lemah karena
tangisnya.
“Fir,
kamu harus istirahat, Fir”, jawab Andre sambil merangkul adik kesayangannya
itu.
Andre
membiarkan Fira menangis hingga terdengar dering ponsel Andre yang membuat
mereka berdua segera mendekati ponsel itu dan menerima panggilan.
“Halo,
saudara Andre?”, ucap seorang lelaki, “Maaf saya dari pihak rumah sakit,
seorang pasien kami bernama Reza meminta anda dan adik anda untuk datang ke
rumah sakit. Reza sedang dalam keadaan yang benar-benar kritis, saya harap anda
segera datang ke rumah sakit”
“Baik,
pak. Terimakasih”, balas Andre singkat. Andre terkejut. Ia terdiam sebentar. Ia
menatap Fira lalu menarik tangan Fira untuk segera menaiki mobil dan berangkat
menuju rumah sakit. Mereka berangkat dengan terburu-buru.
Dalam
perjalanan Fira terus bertanya apa yang terjadi. Fira sangat khawatir dengan
keadaan Reza karena kakaknya itu tak memberitahu kabar apapun mengenai Reza,
namun Andre tak berani menberi jawaban sebelum sampai di rumah sakit karena ia
tahu adiknya akan sangat sedih. Andre mengendarai mobil dengan kecepatan penuh
sehingga sampai ke rumah sakit hanya dalam beberapa menit.
Sesampainya
di rumah sakit air mata Fira mulai berjatuhan. Ia takut sesuatu terjadi pada
Reza. Detak jantung Fira semakin cepat, ia berlari mencari ruangan dimana Reza
berada. Langkah kakinya semakin cepat, Ia mengeluarkan seluruh tenaga yang ia
miliki untuk menemui Reza.
Hingga
akhirnya ia berada di depan ruang yang ia cari. Ia menemukan Reza didalam
ruangan itu. Keadaan Reza sangat parah. Seluruh tubuh Fira semakin melemas,
dengan sekuat tenaganya, ia berlari mendekati Reza yang sedang terbaring dan
memeluk Reza. Fira tak mampu lagi melakukan hal apapun, ia hanya bisa menangis
sambil memeluk Reza dengan sangat erat. Air matanya sangat deras membasahi
wajahnya. Bahkan Fira tak sadar kedua orangtua Reza berada dalam ruangan itu.
“Reza...bangun
Rezaaa”, ucap Fira dengan volume suara tinggi, ia tak mampu menahan
kesedihannya.
“Firaa,
sabar Fir, sabar. Tante juga sedih, tapi kita harus ikhlasin Reza, Fir. Biarkan
Reza istirahat di alam sana”, ucap ibu Reza menenangkan Fira.
Fira
sangat terkejut mendengar ucapan ibunya Reza. “Tante? Apa maksud tante ucapin
itu ke Fira? Reza masih hidup tante”, jawab Fira penuh emosi, Fira amat sangat
tak menginginkan Reza meninggalkannya.
Fira
masih terus memeluk Reza sambil menangis. Ia tak mau melepaskan pelukkannya, ia
tak ingin Reza pergi. “Za, jangan tinggalin aku, Za. Aku mohon. Reza tolong
buka mata kamu, Reza dengerin aku, Zaa... Rezaaa aku sayang sama kamuu...” ucap
Fira dengan sangat lirih, suaranya melemah.
Kedua
orang tua Reza dan Andre ikut bersedih melihat kejadian itu. Namun mereka tak
mampu melakukan apapun. Reza telah pergi. Mereka membiarkan Fira mengeluarkan
semua air matanya saat itu. Mereka paham perasaan Fira.
Malam
itu Fira tertidur di ruangan itu. Ia tertidur sambil memeluk Reza, tak
sedikitpun tangannya bergerak. Fira terlelap di ruangan itu.
***
Pagi
ini pemakaman Reza akan dilaksanakan. Fira masih terus menangis, air mata tak
henti-hentinya berhenti mengalir. Fira menggunakan pakaian berwarna hitam. Air
matanya semakin menjadi-jadi saat pemakaman Reza telah selesai, karena ia tahu
ia tak akan lagi bisa melihat Reza, karena ia tahu itu adalah saat terakhir ia
melihat Reza. Ia tahu ia akan sangat merindukan Reza.
***
Beberapa
hari setelah pemakaman Reza, Fira menerima sebuah memory card dari Sarah
“Fira, ini untukmu, Reza menitipkannya padakku sebelum kepergiannya, aku turut
berduka, jangan sering bersedih ya Fir, .Ia membuka dan melihat file dalam
memory itu. Ada sebuah video. Fira membukannya.
Tiba-tiba
air matanya pecah. Tetes demi tetes semakin deras. Hatinya sakit. Dalam video
itu ia melihat Reza. Ternyata Reza merekam dirinya sebelum kepergiannya. Fira
menekan tombol Play. Ia menyaksikan video Reza.
“Hai,
Firaaaa. Kamu baik-baik aja kan?”, Wajah Reza terlihat sangat bahagia dalam
video itu, wajah Reza yang sangat dikenal Fira benar-benar membuat Fira semakin
merindukkannya. Bagaimana tidak, Fira benar-benar mengenal setiap bagian hingga
lekuk demi lekuk wajah Reza, bagaimana cara Reza tersenyum, bagaimana cara Reza
berbicara, Fira sangat mengenal semua hal tersebut.
“Firaaa”,
lanjut Reza dalam videonya, raut wajahnya memelas, “Fira, aku disini cuma mau
bilang, aku gamau kehilangan kamu, Fir. Aku mau kamu tau kalau aku kangen
banget sama kamu....Akhir-akhir ini kamu jarang banget main bareng sama aku,
dan itu bikin aku benar-benar kesepian Fir, aku kangen ngabisin waktu bareng
kamu, aku kangen melakukan hal-hal gila bareng kamu, aku kangen bercanda dan
belajar bareng kamu, aku kangen dengerin curhatan kamu, aku kangen perhatianmu,
aku merindukan segalanya tentang kita. Aku kangen kamu, Fir. Aku takut
kehilangan kamu, hampa banget rasanya jalani hari tanpa kamu....Maaf kalau aku
gabisa bikin kamu nyaman sama aku sampai kamu menjauh dari aku. Aku tau, Fir,
kamu cuma nganggap aku sahabatmu, tapi maaf Fir, aku ga bisa bohongi perasaanku
sendiri....Aku sayang sama kamu Fir, lebih dari rasa sayang seorang sahabat.
Maaf kalau kamu ga suka akan hal itu, tapi begitulah kenyataannya, aku sayang
kamu, Fir. Selama ini aku emang ga pernah ngungkapin perasaanku, aku hanya bisa
membiarkan hatiku yang mengungkapkannya walau aku tau kamu gak akan bisa tau
isi hatikku kalau aku ga ngungkapin. Tapi ini semua aku lakuin agar hubungan
persahabat kita gak hancur”, Fira menangis selama melihat Reza mengungkapkan
semuanya dalam video itu.
***
Ia
terduduk lemas dibangku kamarnya. Tubuhnya begitu rapuh. Ia hanya ingin berada
di ruang kamar seorang diri. Tanpa gangguan dari siapapun. Tidak ada hal yang
ingin ia lakukan. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus melakukan apa. Ponselnya
yang terus berdering tak ia hiraukan. Sekali lagi, ia benar benar tidak ingin
melakukan apapun. Ia merasa sangat lelah, ia tidak kuat menerima apa yang
sebenarnya terjadi. Karena rasanya sangat sakit. Sakit sekali...
Ia hanya butuh waktu untuk
memperbaiki keadaannya, menyembuhkan luka dihatinya, menghilangkan perih yang
ia rasakan, dan membiarkan tangis membasahi pipinya. Tetesan air mata yang
berlinang terasa hangat. Ia tahu hal ini dapat membuat keadaannya membaik. Ia
hanya tak tahu, entah kapan perih di hatinya dapat terobati. Entah sampai kapan
sedih ini akan menemaninya disetiap hari-harinya.
Matanya tergerak menatap keluar jendela. Ia dapat melihat banyak bintang
yang cahayanya menerangi gelap malam. Bintang-bintang terlihat cantik menghiasi
langit. Bintang-bintang membuat tubuhnya tergerak untuk mendekati jendela. Ia
berusaha dengan kuat menyeret kakinya untuk berjalan menghampiri jendela
kamarnya, Ia ingin melihat bintang lebih dekat. Bintang-bintang membuat langit
malam selalu terlihat tenang seperti biasanya. Namun untuk kali ini, langit dan
bintang-bintang itu membuat sesak didadanya semakin parah. Membuat air matanya
pecah dan semakin deras membasahi wajahnya.
Ia sudah benar–benar tidak kuat menahan rasa sesak didadanya. Semua
kenangan masa lalunya tak pernah bisa terhapuskan dari ingatannya. Kenangan ia
bersama seseorang lelaki yang amat ia kenal dengan baik selalu membuat tetes
demi tetes airmatanya begitu deras mengiringi isak tangisnya, ia sangat
merindukan lelaki itu. Dengan airmata yang terus mengalir, dengan suara rapuh
terucap kata dari dirinya. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Kumohon,
kembalilah.....aku merindukanmu, sangat merindukanmu.
buset dah tulisan semua
BalasHapus